Bintang Lionel Messi baru saja menutup lembaran panjang pengabdiannya bersama tim nasional dalam sebuah malam emosional di Stadion Monumental. Kemenangan 3-0 atas Benin menjadi panggung terakhir bagi La Pulga sebelum resmi menanggalkan jersey kebanggaan negaranya setelah mengabdi selama lebih dari dua dekade penuh keringat dan air mata.

Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) sengaja merancang laga perpisahan khusus untuk sang kapten legendaris. Di hadapan puluhan ribu suporter yang memadati stadion, peraih trofi Piala Dunia itu tak kuasa menyembunyikan getar emosi saat menyampaikan pidato perpisahannya yang begitu menyayat hati para pecinta sepak bola.

"Tidak membela lagi rasanya sangat menyakitkan. Saya bersumpah atas nama hidup saya bahwa bermain di tim nasional Argentina adalah hal paling indah yang bisa kita rasakan," ujar Messi dengan suara bergetar, mengenang perjalanan panjangnya sejak menjalani debut pada 17 Agustus 2005 silam.

Pemain yang kini mencatatkan total 208 penampilan internasional tersebut mengakui bahwa keputusan gantung sepatu ini dipengaruhi oleh faktor emosional yang mendalam, terutama kepergian sang ayah, Jorge Messi. Sosok sang ayah selalu menjadi bayangan pertama yang hadir di benaknya setiap kali ia berbicara tentang kejayaan Argentina di kancah internasional.

Perjalanan 21 tahun membela panji negara tentu diwarnai fase jatuh dan bangun yang membentuk mentalitas baja sang megabintang. Mulai dari kekalahan di final-final menyakitkan hingga puncak kejayaan mempersembahkan empat gelar mayor termasuk Piala Dunia, dua Copa America, dan Finalissima, semuanya terangkum dalam memori indah sang penyerang.

Malam perpisahan itu semakin sempurna ketika skuad Albiceleste memastikan kemenangan telak tiga gol tanpa balas lewat kontribusi gol dari Nicolas Otamendi, Nico Paz, serta eksekusi penalti dingin dari sang legenda sendiri. Sebuah akhir manis dari babak kejayaan salah satu pemain terhebat sepanjang sejarah sepak bola modern.