Badai kritik menerpa ruang ganti Manchester United setelah kekalahan menyakitkan 0-2 dari Atletico Madrid di kancah Eropa. Gol-gol dari Pablo Barrios dan Ademola Lookman sukses memaksa Setan Merah bertekuk lutut di Wanda Metropolitano. Hasil minor ini semakin memperpanjang catatan buruk awal musim mereka yang dinilai sebagai salah satu periode paling mengkhawatirkan dalam beberapa dekade terakhir, memicu reaksi emosional yang luar biasa dari lini pertahanan tim.
Bek tangguh Lisandro Martínez sama sekali tidak menutup-nutupi kekecewaannya seusai pertandingan usai. Tanpa ragu, pemain tim nasional Argentina itu menyoroti minimnya investasi manajemen klub di bursa transfer musim panas lalu sebagai akar permasalahan utama. Di bawah arahan pelatih Michael Carrick, klub sebenarnya sempat mencatatkan tren positif musim lalu, namun pergerakan transfer yang lambat membuat kedalaman skuad dianggap gagal memenuhi standar kompetisi level atas.
“Malam ini sangat buruk, sangat buruk. Ini adalah refleksi dari bagaimana kondisi klub kami saat ini,” ujar Martínez dengan nada berapi-api kepada awak media. Ia bahkan secara terbuka menuntut tanggung jawab dari direktur teknik klub, Jason Wilcox, untuk segera berbenah. Menurutnya, menyalahkan pemain dan jajaran pelatih saja tidak akan pernah cukup untuk menyelesaikan masalah struktural yang sudah berakar lama di tubuh manajemen Setan Merah.
Musim ini, raksasa Premier League tersebut baru mampu mengamankan dua kemenangan di semua kompetisi, menandai start terburuk mereka di liga dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Situasi ini kontras dengan pencapaian musim sebelumnya ketika mereka mampu mendulang 12 kemenangan dari 17 laga. Keputusan manajemen yang hanya mendatangkan segelintir pemain baru dinilai gagal memberikan suntikan tenaga segar yang dibutuhkan untuk mengarungi jadwal padat dan ketatnya persaingan antarklub Eropa.
Menanggapi ledakan emosi dari anak asuhnya tersebut, sang juru taktik memilih untuk merespons dengan kepala dingin dan menyebut komentar itu lahir dari tensi pertandingan yang tinggi. Meski demikian, kekalahan ini meninggalkan pekerjaan rumah yang sangat besar bagi manajemen untuk segera meredam tensi internal. Tekanan kini tidak hanya tertuju pada performa di atas rumput hijau, tetapi juga pada keharmonisan antara pemain dan petinggi klub yang berada di ambang perpecahan serius.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang