Liverpool resmi mengumumkan kesepakatan sponsor jersey dengan Turkish Airlines senilai £300 juta (sekitar Rp6 triliun) untuk lima musim ke depan. Kerja sama ini akan membuat logo maskapai penerbangan Turki tersebut terpampang di dada jersey tim putra dan putri Liverpool mulai Juni 2027 hingga Juni 2032. Kesepakatan ini disebut-sebut sebagai yang paling menguntungkan dalam sejarah Premier League dan langsung menempatkan Liverpool di puncak daftar pendapatan sponsor depan jersey di liga Inggris.
Nilai kontrak ini mencapai £60 juta per musim, menyamai kesepakatan Manchester United dengan Snapdragon yang sebelumnya memimpin. Peningkatan £10 juta per tahun dari perjanjian saat ini dengan Standard Chartered (senilai £50 juta per musim) berarti lonjakan pendapatan sebesar 20 persen. Keuntungan ini murni berasal dari eksposur jersey pertandingan, tanpa mengikutsertakan hak penamaan stadion Anfield atau fasilitas latihan, sehingga klub masih memiliki peluang monetisasi terpisah jika ingin menjajaki opsi tersebut.
Sebagai perbandingan, Manchester City dan Arsenal mencatat paket komersial keseluruhan yang serupa atau lebih tinggi, namun angka tersebut sudah termasuk hak penamaan stadion dan branding fasilitas latihan. Dengan demikian, pendapatan £60 juta per musim Liverpool dari Turkish Airlines sepenuhnya berasal dari eksposur kit pertandingan, menjadikannya salah satu yang terbesar di Premier League.
Skala finansial ini semakin jelas jika dibandingkan dengan klub papan tengah. Kenaikan £10 juta per musim yang diraih Liverpool dalam satu negosiasi ini setara dengan total pendapatan sponsor depan jersey klub seperti Fulham dan Everton, yang masing-masing dilaporkan menerima £10 juta dari sponsor taruhan pada musim lalu. Sementara itu, Crystal Palace hanya mengantongi £6,5 juta dan Brighton £6 juta, sekitar sepersepuluh dari pendapatan Liverpool. Klub seperti Ipswich Town dengan nilai £3,5–4 juta per musim bahkan membutuhkan waktu hingga 15 tahun untuk menyamai pendapatan Liverpool dalam satu musim.
Kesenjangan ekonomi di sepak bola Inggris kian melebar. Kesepakatan ini menegaskan dominasi klub-klub besar dalam hal pendapatan komersial, sementara tim papan tengah dan bawah terus tertinggal. Liga Premier juga telah melarang sponsor perusahaan judi di bagian depan jersey mulai musim 2026/27 untuk mengurangi paparan terhadap audiens rentan, terutama anak-anak. Larangan ini diharapkan memutus kaitan erat antara identitas klub dan budaya taruhan, meski merek judi masih diizinkan di lengan jersey, papan iklan, dan siaran.
Dengan kesepakatan ini, Liverpool tidak hanya memperkuat posisi finansialnya tetapi juga mengirim sinyal ambisi besar di pasar transfer dan kompetisi. Klub yang berbasis di Anfield ini kini memiliki daya tarik lebih untuk merekrut pemain bintang dan mempertahankan performa di puncak klasemen. Langkah ini juga menjadi preseden bagi klub lain dalam menegosiasikan hak komersial mereka.
Bagi penggemar, kesepakatan ini menjadi bukti nyata bahwa Liverpool terus berupaya bersaing di level tertinggi, baik di dalam maupun luar lapangan. Dengan dukungan finansial yang solid, masa depan The Reds di bawah asuhan pelatih Arne Slot diharapkan semakin cerah.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang