Djamal Ziane sudah tiga kali mengangkat trofi juara Regional League Northeast, tapi tak sekali pun ia merasakan promosi ke 3. Liga. Kapten Lokomotive Leipzig itu mengaku frustrasi berat. "Itu hal terburuk yang bisa dialami pesepak bola," ujarnya kepada BBC Sport. "Katastrofe saja tidak cukup menggambarkannya. Tidak masuk akal. Kalau mereka benar-benar ingin mengubahnya, bisa dilakukan besok."
Masalahnya klasik: piramida sepak bola Jerman punya bottleneck. Di bawah Bundesliga, 2. Bundesliga, dan 3. Liga, ada lima liga regional (Utara, Barat, Barat Daya, Timur Laut, dan Bavaria). Juara dari masing-masing liga seharusnya promosi, tapi hanya empat tim yang degradasi dari 3. Liga setiap musim. Solusinya? Juara dari Barat dan Barat Daya promosi otomatis, sementara jatah ketiga diputar bergilir di antara tiga liga lain setiap tiga tahun. Jatah keempat diperebutkan lewat play-off antara dua juara tersisa. Artinya, selalu ada satu juara yang gigit jari.
Nah, yang sering kena getahnya adalah juara dari Regional League Northeast, wilayah bekas Jerman Timur. Lok Leipzig sudah tiga kali merasakannya (2020, 2025, 2026). Klub-klub lain seperti Dynamo Berlin (2022) dan Energie Cottbus (2023) juga pernah gagal. Musim ini, hanya ada satu klub Jerman Timur di 3. Liga: Hansa Rostock. Ketimpangan sosial-ekonomi antara timur dan barat masih terasa. Dari 40 perusahaan terbesar di indeks DAX, tak satu pun berbasis di bekas Jerman Timur (di luar Berlin). Upah lebih rendah, pengangguran lebih tinggi, dan populasi menua karena anak muda pindah ke barat.
Alasan jatah promosi otomatis diberikan ke Barat dan Barat Daya sederhana: jumlah tim pria terdaftar di sana lebih banyak karena populasinya lebih besar. Ziane muak mendengarnya. "Kalau begitu, berikan saja jatah promosi otomatis ke kami karena kami menarik penonton lebih besar," tegasnya. Data mendukung: rata-rata kehadiran di Regional League Northeast musim lalu 3.125 penonton, dua kali lipat liga lain. Lok Leipzig sendiri rata-rata 6.352 penonton, dan derby melawan Chemie Leipzig dihadiri lebih dari 11.000 orang.
"Sayangnya, tradisi, penonton, dan sejarah tidak memberi poin," kata CEO Lok, Toni Wachsmuth (39). Ia tak punya akses ke sponsor sebesar klub-klub barat. "Liga barat memang punya fondasi ekonomi lebih baik, tapi semua setuju sistem sekarang tidak masuk akal. Semua harus berkompromi, tapi beberapa pejabat jelas menempatkan kepentingan pribadi di atas kebaikan sepak bola Jerman."
Pada Maret 2025, klub-klub dari timur meluncurkan kampanye "Meister mussen aufsteigen!" (Juara harus promosi!). Usulan mereka: kurangi lima liga menjadi empat, dengan batas geografis ditentukan ulang setiap musim menggunakan kecerdasan buatan, mempertimbangkan jarak tempuh dan derby menarik. Mereka menyebutnya model kompas. Tommy Haeder (35), CEO Chemnitzer FC dan tokoh di balik kampanye, ingin keluar dari debat timur-barat. "Kami sudah ganti generasi. Banyak pejabat tua pensiun dan digantikan anak muda yang tidak punya nostalgia terhadap GDR," ujarnya. Haeder juga menekankan manfaat bagi pengembangan bakat: "Tidak baik untuk talenta ketika anak dari Chemnitz dicabut dari rumah dan keluarga pada usia 10 untuk bergabung akademi di Hamburg, Dortmund, atau Stuttgart."
Kampanye ini didukung lebih dari 80 klub lintas divisi. Union Berlin menjadi klub Bundesliga pertama yang mendukung resmi, disusul presiden Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke. Pelatih Bournemouth, Marco Rose, yang pernah bermain dan melatih di Lok Leipzig, juga angkat bicara. "Saya tahu bagaimana rasanya klub berusaha bekerja dengan sumber daya seadanya. Semuanya di ujung tanduk. Anda harus memberi klub dan penggemar keyakinan bahwa usaha mereka akan dihargai dengan promosi," katanya.
Sayang, momentum itu kandas dalam voting akhir Juni. Federasi regional tiba-tiba mengumumkan dua perubahan: liga baru hanya berisi 18 tim (bukan 20), dan syarat mayoritas di setiap dari lima region. Meski mayoritas keseluruhan (50,9%) mendukung model kompas, syarat per region tak terpenuhi. Barat Daya memilih opsi alternatif yang membubarkan liga timur laut. "Perubahan dari sistem yang berfungsi menjadi model rumit, tidak aman, dan berisiko ekonomi tanpa manfaat jelas tidak masuk akal," kata CEO FSV Frankfurt, Robert Lempka. Presiden Federasi Sepak Bola Bavaria, Christoph Kern, menolak menyerahkan Regional League Bavaria begitu saja.
Musim ini, protes meletus di seluruh Jerman. Di Regional League Northeast, hampir setiap pertandingan dimulai dengan penundaan karena pemain menolak bermain di menit pertama. Pada laga pembuka, suporter Lok Leipzig melempar ratusan trofi plastik ke lapangan, simbol gelar juara mereka yang tak berharga. Ultras Bayern Munich menampilkan koreografi kritis terhadap federasi Bavaria, dan penggemar di seluruh Bundesliga menggelar spanduk serentak: "Klub dan penggemar dikhianati! Juara harus promosi! Model kompas sekarang!"
Kompas mungkin akhirnya menunjuk ke arah penyelesaian. Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) mengumumkan rapat umum luar biasa pada 18 Desember. "Isu ini harus diselesaikan," kata Presiden Bernd Neuendorf. "Model kompas mendapat suara terbanyak dan menawarkan peluang terbaik untuk konsentrasi performa elite dan pengembangan bakat." Namun, perubahan apa pun hanya akan diterapkan pada musim 2028-29. Terlalu terlambat bagi Ziane yang kini berusia 34 dan telah menjalani musim ke-13 bersama Lok Leipzig. Juara dua kali berturut-turut, tapi tetap di divisi empat. "Anda tidak akan pernah benar-benar melupakannya karena di level kami, 3. Liga adalah puncak. Promosi bersama klub kampung halaman akan menjadi hal terindah di dunia bagi saya," tutupnya.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang