Musim ini menghadirkan kenyataan pahit bagi Leicester City yang harus merasakan atmosfer kompetisi League One. Penurunan drastis ini terjadi setelah sederet masalah finansial, pengurangan poin, hingga kekacauan manajemen dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah situasi pelik tersebut, pelatih kepala Russell Martin perlahan mencoba merajut kembali serpihan kejayaan klub yang sempat menjuarai Premier League satu dekade silam.
Badai masalah internal ternyata jauh lebih pelik dari perkiraan publik. Dilansir dari BBC Sport, klub sempat menghadapi embargo transfer selama lima bulan di musim panas akibat aturan Salary Cost Management Protocol. Keadaan itu memaksa manajemen melepas beberapa pilar penting, termasuk melepas talenta muda ke Manchester City sebelum mereka bisa mendatangkan wajah-wajah baru di detik-detik akhir bursa transfer demi membangun skuad yang kompetitif.
Di luar urusan belanja pemain, Martin juga harus memutar otak untuk mengubah kultur kedisiplinan di pusat latihan Seagrave. Skuad sempat dinilai kehilangan etos kerja dan terlalu nyaman dengan fasilitas mewah yang ada. Sang pelatih menerapkan aturan ketat, seperti larangan membawa ponsel di kantin hingga hukuman lari sprint bagi siapa saja yang terlambat atau melanggar aturan, tanpa pandang bulu termasuk bagi staf pelatih.
Meski kemenangan beruntun atas Doncaster dan kemenangan telak 4-0 kontra Bromley mulai meredakan ketegangan, hubungan suporter dengan manajemen puncak masih berada di titik nadir. Ketiadaan komunikasi dari petinggi klub selama bertahun-tahun menciptakan jurang pemisah yang lebar dengan para pendukung setia di tribun. Kehadiran direktur olahraga James McCarron diharapkan mampu membawa stabilitas baru dalam struktur kepemimpinan klub.
Tantangan besar kini ada di pundak Martin untuk membuktikan kapasitasnya secara konsisten di atas lapangan hijau. Target ambisius meraih 90 poin demi kembali promosi tetap dicanangkan meski jalan yang harus ditempuh masih sangat terjal. Ketulusan klub dalam membenahi diri kini dinantikan oleh publik King Power Stadium yang merindukan kembalinya identitas klub kebanggaan mereka.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang