Kekalahan 0-2 dari Chelsea di Stamford Bridge menegaskan satu kenyataan pahit bahwa Manchester United kini benar-benar terjebak dalam pusaran pertarungan degradasi Liga Inggris. Di bawah arahan manajer Michael Carrick, Setan Merah telah menelan empat kekalahan dari lima pertandingan terakhir di semua ajang. Situasi ini memperpanjang derita klub yang kini mengoleksi sembilan laga beruntun tanpa kemenangan, sebuah rekor minor yang belum pernah dirasakan dalam puluhan tahun terakhir.
Masalah terbesar skuad asuhan Carrick musim ini terlihat jelas dari rapuhnya lini serang dan rapuhnya mentalitas bertanding. Sepanjang babak pertama, peluang emas sempat lahir melalui kaki Amad Diallo dan Bruno Fernandes, namun semuanya mentah akibat buruknya penyelesaian akhir. Ironisnya, begitu tuan rumah mencetak gol pembuka lewat aksi Morgan Rogers di awal paruh kedua, mental bertanding tim tamu langsung runtuh seketika tanpa ada perlawanan berarti.
Petaka semakin menjadi ketika Lisandro Martinez melakukan pelanggaran ceroboh di kotak terlarang terhadap Wesley Fofana yang berbuah kartu kuning kedua sekaligus penalti. Cole Palmer yang maju sebagai eksekutor sukses memperbesar keunggulan, membuat United harus bermain dengan 10 orang sisa laga. Suasana semakin panas ketika Carrick tampak mengabaikan Martinez yang berjalan keluar lapangan, memupus klaim keharmonisan internal tim.
Dilansir dari ESPN FC, rata-rata poin per pertandingan United musim ini baru menyentuh angka 0,77 dari sembilan laga awal. Jika dikalkulasikan hingga akhir musim, raihan tersebut hanya akan membawa mereka mengumpulkan sekitar 29 poin, sebuah angka yang hampir mustahil cukup untuk bertahan di kasta tertinggi Liga Inggris. Manajemen klub kini dihadapkan pada dilema besar antara mempertahankan jajaran kepelatihan saat ini atau segera mencari juru selamat baru demi menghindari aib terdegradasi.
Tekanan di pundak para petinggi klub semakin berlipat ganda mengingat jadwal berat sudah menanti di depan mata, termasuk laga kandang melawan Aston Villa serta lawatan tandang ke markas Liverpool. Tanpa adanya perombakan instan atau suntikan pemain baru di bursa transfer Januari mendatang, bayang-bayang jurang degradasi bukan lagi sekadar gurauan kelam, melainkan ancaman nyata di depan mata.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang