Dunia sepak bola tengah diguncang oleh bayang-bayang sanksi besar yang menghantam Manchester City. Di tengah situasi pelik tersebut, masa depan sang juru taktik, Pep Guardiola, mendadak menjadi sorotan tajam. Kekalahan 2-4 dari Paris Saint-Germain di ajang Liga Champions menandai momen kembalinya Guardiola ke Stadion Etihad, namun atmosfer di sekitarnya sudah sangat berbeda dibanding masa kejayaannya dulu.

Dilansir dari FourFourTwo, situasi ini membuat reputasi sang pelatih asal Spanyol itu ikut dipertarui. Jika Guardiola mengakui adanya pelanggaran finansial besar selama periode 2009 hingga 2018, maka 20 trofi yang diraihnya bersama The Citizens—termasuk enam gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions—otomatis akan tercoreng. Ia praktis telah menghapus hampir 60 persen dari total catatan kariernya di pinggir lapangan.

Bagi pelatih sekaliber Guardiola yang kini berusia 55 tahun, pensiun di tengah badai skandal tentu bukan cara yang diinginkan untuk menutup karier cemerlangnya. Meskipun ia menolak tawaran menangani tim nasional Italia demi alasan istirahat, dunia sepak bola terus berspekulasi mengenai langkah berikutnya. Sepanjang kariernya, ia belum pernah menangani klub dengan sumber daya terbatas, sebuah argumen yang sering dibandingkan dengan para rivalnya seperti Sir Alex Ferguson atau Jose Mourinho.

Pilihan tantangan berikutnya terbuka lebar, mulai dari memulihkan kejayaan raksasa Italia seperti Juventus atau AC Milan, hingga mengambil alih posisi kursi panas di level internasional bersama tim nasional Brasil atau Inggris. Apapun keputusan yang diambil oleh sang pelatih, langkah selanjutnya dipastikan akan menjadi salah satu drama terbesar dalam sejarah sepak bola modern yang menentukan warisan abadinya.