St James' Park menjadi saksi momen perkenalan resmi Matthias Jaissle sebagai manajer baru Newcastle United, Selasa (30/7). Dengan setelan jas rapi dan senyum khas, pelatih berusia 38 tahun itu tampil percaya diri di hadapan media, seolah tak terganggu oleh gejolak musim panas yang melanda klub.

Kehadiran Jaissle memang di tengah situasi yang tidak mudah. Eddie Howe pergi cepat, dan kapten Bruno Guimaraes menyusul Sandro Tonali serta Anthony Gordon keluar dari St James' Park. Namun, Jaissle justru melihat peluang, bukan kekhawatiran. "Ini tantangan besar. Kami kehilangan karakter-karakter penting, ini sebuah kekosongan. Yang lain harus mengisinya, baik melalui rekrutan baru atau pemain yang ada," ujarnya tegas.

Mantan pelatih RB Salzburg itu menegaskan bahwa masa transisi bukanlah waktu untuk mengeluh. "Kami melihat peluang, bukan hal negatif. Kami akan menggunakan setiap hari sebaik mungkin untuk berkembang. Ini tugas kolektif seluruh klub. Jika semua bergerak ke arah yang sama, kami akan sukses," tambahnya, dikutip dari FourFourTwo.

Sebagai produk dari proyek Red Bull dan murid Ralf Rangnick, Jaissle dikenal dengan filosofi sepak bola menekan tinggi. Ia ingin menghidupkan kembali identitas Newcastle yang sempat meredup di era akhir kepemimpinan Howe. "Kami harus bermain di depan, intens, agresif, dan tentu saja sukses. Itulah mengapa saya di sini; keyakinan tim pelatih dan identitas Newcastle saling terhubung erat," jelasnya.

Jaissle juga mengungkapkan kedekatannya dengan pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel. "Dia adalah pelatih saya saat saya masih muda di Stuttgart. Saya sangat mengaguminya dan berharap bisa mendapat banyak wawasan darinya tentang Liga Inggris," ujarnya sambil tersenyum.

Dengan dua pekan menuju laga pembuka Premier League melawan Liverpool di kandang, Jaissle sadar tugasnya berat. Namun, ia menegaskan akan memberikan segalanya. Tidak ada janji visi jangka panjang, tetapi dari kesan pertama, Matthias Jaissle tampaknya siap meninggalkan jejaknya di Tyneside.