Ada kesuksesan yang datang sekilas, namun ada pula yang tumbuh menjadi sebuah dinasti penguasa. Setelah sukses membantai Manchester City dengan skor meyakinkan 4-2 di ajang Liga Champions, Paris Saint-Germain kini berada di jalur yang tepat untuk mengukuhkan status legendaris mereka di Benua Biru.

Pasukan asuhan pelatih bertangan dingin tersebut tampil trengginas sejak menit awal babak pertama. Keunggulan tiga gol tanpa balas saat turun minum membuktikan betapa tajamnya lini serang Les Parisiens musim ini. Meskipun sempat mendapat perlawanan sengit di paruh kedua, determinasi tinggi tetap terjaga hingga peluit akhir berbunyi. Rentetan hasil positif ini membawa mereka memburu gelar juara Eropa ketiga secara beruntun.

Krisis awal musim domestik yang kerap melanda klub asal ibu kota Prancis itu seolah sirna ketika mereka menghadapi panggung Eropa. Transformasi besar terjadi sejak klub mengubah arah kebijakan transfer dengan meninggalkan era pemain bintang berharga selangit demi membangun kolektivitas tim yang solid. Pendekatan disiplin taktik terbukti membuahkan dua trofi Liga Champions beruntun sebelumnya.

Kini, tantangan terbesar adalah menyamai rekor para raksasa sejarah masa lalu seperti Ajax Amsterdam, Bayern Munich, hingga Real Madrid. Ketangguhan mental serta intensitas pressing yang diperagakan membuat banyak pengamat sepak bola memprediksi bahwa dominasi baru di bawah kendali pelatih kepala mereka baru saja dimulai.