Bayangan kelam tengah menggelayuti Manchester City setelah vonis bersalah tak terduga dijatuhkan kepada mereka. Di tengah ketidakpastian yang membakar suporter di tribun, banyak pihak mencoba mencari pembanding paling masuk akal untuk menerka masa depan The Citizens. Salah satu rujukan yang kerap disebut adalah kejatuhan historis klub raksasa Skotlandia, Rangers, pada tahun 2012 silam.

Kala itu, Rangers harus rela didepak ke kasta terbawah sepak bola Skotlandia akibat lilitan masalah finansial dan kewajiban pajak yang berujung pada likuidasi perusahaan lama. Pelatih Ally McCoist memimpin tim melewati masa-masa sulit tersebut dari tier keempat, di mana mereka harus memulai semuanya dari titik nol. Dilansir dari BBC Sport, situasi ini tentu menghadirkan horor tersendiri bagi klub-klub mapan yang terbiasa hidup di level tertinggi kompetisi domestik maupun Eropa.

Meski demikian, akar permasalahan kedua klub memiliki perbedaan yang cukup kontras. Rangers ambruk karena sengketa pembayaran pajak lewat skema Employee Benefit Trust, sementara City dinyatakan bersalah karena menyembunyikan dana fantastis lebih dari £830 juta atau setara dengan sekitar Rp16,6 Triliun melalui kontrak palsu dengan mitra komersial. Namun, ancaman sanksi terberat yang menghantui City tetap memicu spekulasi liar mengenai skenario terburuk, termasuk kemungkinan terdepak dari Premier League.

Jika skenario terburuk itu benar-benar terjadi, City dipastikan harus merangkak dari divisi bawah Liga Inggris layaknya Rangers dulu. Tantangan terbesar tentu berada di sektor skuad, di mana para pemain bintang dipastikan tidak akan bertahan di kasta bawah. Legenda hidup Ibrox, Ally McCoist, mengingatkan bahwa klub sebesar Manchester Biru harus siap membangun fondasi dari puing-puing kehancuran apabila sanksi ekstrim benar-benar dijatuhkan kepada mereka.