Dunia sepak bola Inggris tengah dihebohkan dengan kelanjutan kasus pelanggaran finansial yang menyeret Manchester City. Di tengah situasi yang panas ini, manajer Manchester United, Michael Carrick, akhirnya angkat bicara dan mengakui bahwa dirinya masih menyimpan banyak tanda tanya besar terkait investigasi tersebut.
Sebagai seseorang yang sempat merasakan langsung pahitnya kehilangan gelar juara di masa lalu, Carrick menyebut kasus ini telah memengaruhinya secara pribadi. Ia mengenang kembali momen menyakitkan pada tahun 2012, ketika gol dramatis Sergio Aguero di masa tambahan waktu merenggut trofi Premier League dari genggaman Setan Merah di kandang Sunderland.
Bukan hanya itu, rasa penasaran dan kekecewaan serupa juga dirasakannya ketika finis sebagai runner-up di bawah asuhan Jose Mourinho pada 2018, serta saat menjadi bagian staf kepelatihan Ole Gunnar Solskjaer pada musim 2020-2021. Kendati ada wacana pemberian medali juara jika City dinyatakan bersalah dan dicopot gelar juaranya, Carrick menegaskan bahwa hal tersebut tidak akan pernah bisa menggantikan emosi kemenangan yang direnggut di atas lapangan hijau.
"Dalam sepak bola, hasrat untuk menang, emosi, dan perasaan saat juara, sebagian besar ada di momen tersebut. Anda tidak bisa memutarnya kembali," ungkap Carrick, seperti dilansir dari BBC Sport. Baginya, esensi utama dari sebuah kompetisi olahraga terletak pada perjalanan dan klimaks di hari pertandingan yang tidak bisa dibeli dengan medali susulan.
Kasus hukum yang melibatkan pelanggaran regulasi finansial antara musim 2009-2010 hingga 2017-2018 ini kini sedang dalam proses banding. Carrick sendiri mendesak agar kejelasan status ini segera diselesaikan demi kebaikan semua pihak yang terlibat, mengingat dampaknya yang masif terhadap tensi kompetisi level tertinggi.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang