Musim Manchester United diwarnai rapuhnya lini belakang yang membuat para suporter gelisah di tribune. Krisis pertahanan ini menjadi sorotan utama pelatih Michael Carrick jelang duel penting Liga Champions kontra Como. Setan Merah baru mencatatkan satu kali nirbobol dari 10 pertandingan musim ini, sebuah catatan minor yang memaksa tim segera berbenah jika ingin berbicara banyak di kompetisi elite.
Masalah krisis pertahanan ini sebenarnya bukan hal baru bagi skuad Old Trafford. Musim lalu, mereka hanya mampu mengamankan enam clean sheet dari 17 pertandingan di bawah arahan sang juru taktik. Performa lini belakang yang compang-camping jelas jauh dari standar klub besar, terutama jika dibandingkan dengan rival seperti Arsenal yang tampil solid di kompetisi domestik maupun Eropa.
Situasi pelik semakin parah akibat badai cedera yang menghantam pilar lini belakang secara bergantian. Kehilangan pemain kunci membuat sang pelatih kesulitan meramu komposisi ideal, bahkan terpaksa menempatkan pemain posisi asli bek sayap untuk mengisi pos bek tengah saat darurat. Krisis kian melebar ke sektor bek kiri setelah stok pemain menipis dan memaksa bongkar pasang posisi.
Sorotan tajam juga mengarah ke kebijakan bursa transfer musim panas lalu ketika manajemen gagal mendatangkan pelapis sepadan untuk posisi bek kiri. Keputusan merekrut pemain baru dengan nilai transfer sekitar Rp1 Triliun dari Chelsea sempat menuai perdebatan di kalangan pengamat. Meski demikian, sang pelatih tetap membela kinerja manajemen dan menegaskan timnya telah memaksimalkan situasi yang ada.
Peluang bagi pemain muda kini mulai terbuka lebar di tengah terbatasnya opsi pemain senior akibat cedera dan sanksi. Nama-nama talenta akademi kini berada dalam radar untuk diberi kesempatan unjuk gigi di tim utama. Tantangan besar kini menanti skuad asuhan Michael Carrick untuk membuktikan kapasitas mereka di atas lapangan hijau.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang