Ada kontras yang begitu mencolok di ruang ganti Liverpool musim ini. Di pentas Eropa dan piala domestik, skuad asuhan Andoni Iraola tampil sangat beringas dengan gelontoran gol yang memanjakan mata penonton. Namun, ketika harus bertarung di panggung Premier League, mesin gol The Reds mendadak macet total dan kesulitan membongkar pertahanan lawan.

Dari tujuh pertandingan awal liga, klub Merseyside ini baru mampu mengemas sembilan gol saja. Catatan tersebut tentu tertinggal jauh dari tim-tim papan atas lainnya seperti Brighton yang sudah menceploskan 23 gol, atau Manchester City dengan 20 golnya. Padahal, jika melihat ketajaman mereka di kompetisi lain dengan rata-rata 3,75 gol per pertandingan, potensi lini depan tim sama sekali tidak bisa diremehkan oleh lawan.

Iraola sendiri mengakui bahwa timnya menghadapi karakter permainan yang jauh berbeda di kompetisi domestik. Seringkali, anak asuhnya harus dihadapkan dengan taktik blok rendah atau low block dari lawan yang memilih bertahan total. Ironisnya, mantan manajer Bournemouth itu sempat menyatakan lebih menyukai situasi tersebut demi memegang kendali permainan di area pertahanan lawan.

Statistik menunjukkan bahwa Liverpool telah menghadapi blok rendah dalam 28 persen laga mereka, angka tertinggi dibanding kontestan Premier League lainnya. Masalah semakin rumit karena The Reds tercatat sering kebobolan terlebih dahulu dalam empat pertandingan liga, membuat usaha untuk memecah kebuntuan pertahanan rapat lawan menjadi jauh lebih berat dari biasanya.

Meski demikian, kehadiran deretan pemain kreatif baru diharapkan mampu segera menemukan solusi taktik di kompetisi domestik. Ujian konsistensi berikutnya akan langsung tersaji saat mereka meladeni tantangan Brighton di Anfield, sebuah laga krusial yang bisa menjadi titik balik ketajaman lini serang Merah Merseyside.