Stadion Monumental mendadak larut dalam keheningan yang emosional ketika Lionel Messi menjalani laga perpisahan pamungkas bersama Argentina menghadapi Benin, Rabu (7/10). Keputusan besar telah diambil sang maestro setelah Albiceleste tumbang dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 akhir Agustus lalu, yang sekaligus menandai akhir dari perjalanan indahnya di level internasional. Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) dengan sigap merancang momen penghormatan spesial ini di tengah agenda FIFA Matchday.

Suasana haru sebenarnya sudah terasa sejak prosesi hymne nasional berkumandang di atas lapangan hijau. Kapten Inter Miami tersebut tertangkap kamera menitikkan air mata, sementara pelatih kepala Lionel Scaloni juga tampak tak kuasa menahan air mukanya yang berkaca-kaca. Dari tiga rangkaian uji coba yang dijadwalkan, sang legenda berusia 38 tahun itu hanya tampil menghadapi Benin, setelah sebelumnya harus absen saat bersua Bolivia serta Burkina Faso.

Puncak emosi tribun penonton pecah tepat pada menit ke-10 jalannya pertandingan babak pertama. Wasit Fernando Vejar secara simbolis menghentikan laga selama satu menit penuh demi memberikan penghormatan agung kepada sang pemilik nomor punggung 10 yang begitu ikonik. Gemuruh tepuk tangan membahana, kembang api mulai menghiasi langit stadion, sementara koor suporter menyanyikan yel-yel kebanggaan untuk sang ikon.

Sebelum laga dihentikan sejenak, peraih Ballon d'Or terbanyak itu sempat menebar ancaman nyata pada menit ketujuh. Sayangnya, tendangan terarah yang dilepaskannya masih mampu dimentahkan secara sempurna oleh kiper lawan, Marcel Dandjinou. Meski tanpa gol tercipta di awal laga, malam tersebut tetap abadi sebagai panggung tribut paling emosional dalam sejarah sepak bola modern Argentina.