Jose Mourinho kembali ke panggung Liga Champions bersama Real Madrid, dan lawan pertamanya adalah klub yang pernah mengantarnya meraih kejayaan terbesar di kompetisi ini: Inter Milan. Enam belas tahun lalu, tepatnya di Santiago Bernabeu, Mourinho mengangkat trofi Si Kuping Besar setelah Inter menaklukkan Bayern Munich 2-0 di final 2010. Itu adalah gelar keduanya setelah sukses bersama Porto pada 2004, sekaligus laga pamungkasnya sebelum pindah ke ibu kota Spanyol.
Kini, setelah lebih dari satu dekade, Mourinho kembali duduk di kursi pelatih Real Madrid dan Inter menjadi tamu pertama di Bernabeu pada laga perdana fase liga Champions musim ini. Pertandingan ini bukan sekadar ujian awal, tetapi juga momen untuk mengukur apakah Mourinho mampu membawa klub yang pernah ia tinggalkan ini kembali ke puncak kejayaan Eropa. Tekanan langsung terasa mengingat Los Blancos belum meraih trofi dalam dua musim terakhir.
Ketika pertama kali melatih Real Madrid pada 2010, Mourinho mendapat misi jelas: menaklukkan Barcelona, memenangkan La Liga, dan yang terpenting, mempersembahkan gelar Liga Champions ke-10 bagi klub. Ia berhasil memecahkan dominasi Barca dengan merebut gelar juara La Liga 2012 dan Copa del Rey 2011, serta menembus tiga semifinal Champions beruntun. Namun, selalu ada batu sandungan: disingkirkan Barcelona (2011), Bayern Munich lewat adu penalti (2012), dan Borussia Dortmund (2013). Kegagalan itulah yang membuatnya pergi pada 2013 tanpa pernah mengantar Real Madrid ke partai puncak.
Mourinho menegaskan masa lalunya tidak relevan dengan tantangan saat ini. "Di Real Madrid, saya mengalami dua periode berbeda. Saya mengakhiri pekerjaan pada 2013... Ini babak tertutup. Laga melawan Inter tidak ada hubungannya dengan masa lalu," ujarnya. Ia juga menyebut klub sedang dalam proses membangun fondasi yang stabil setelah musim yang ia deskripsikan sebagai "sangat rumit". "Real adalah Real, dan di Real Madrid, Anda harus menang," tambahnya, merespons ekspektasi tinggi yang selalu melekat.
Kepercayaan terhadap Mourinho datang dari rekam jejaknya yang gemilang. Kylian Mbappe, bintang lini depan Madrid, menilai kehadiran pelatih asal Portugal itu membawa aura kemenangan. "Mourinho membawa seluruh kariernya. Dia tahu cara menang, membangun grup, dan memberi motivasi kepada seluruh tim," kata Mbappe. Namun, persiapan Madrid jelang laga ini tidak mulus. Mereka baru saja kalah dari Real Betis di akhir pekan, di mana penalti Mbappe di masa injury time berhasil digagalkan kiper lawan. Meski begitu, Mbappe menolak panik: "Yang terpenting adalah mencetak gol dan itu tanggung jawab saya. Kami sangat tenang."
Inter tentu bukan lawan sembarangan. Bagi Mourinho, laga ini juga bernuansa emosional karena ia masih memiliki ikatan kuat dengan klub yang membesarkan namanya tersebut. "Saya ingin bertemu orang-orang Inter sebelum dan sesudah pertandingan. Tapi selama pertandingan, mereka tidak akan melihat saya sebagai teman. Saya ingin Real Madrid menang. Ini sifat sepak bola," tegasnya. Ia juga menyadari laga ini tidak akan menentukan segalanya karena masih ada tujuh pertandingan fase liga. Namun, setiap poin tetap berharga, dan Mourinho dipastikan akan menurunkan skuad terbaiknya untuk memulai langkah dengan kemenangan.
Menariknya, saat konferensi pers berakhir, seorang jurnalis Italia memberikan hadiah kecil kepada Mourinho: alat penyiram taman yang dibungkus pita. Itu adalah simbol semifinal Liga Champions 2010 antara Inter dan Barcelona di Camp Nou. Saat itu, Inter melaju ke final meski kalah di leg kedua, dan setelah peluit akhir, Mourinho merayakan di tengah lapangan sementara sprinkler stadion menyala. Momen ikonik itu menjadi kenangan manis yang tak terlupakan. Kini, enam belas tahun kemudian, klub yang memberinya malam Eropa terbaik itu justru menjadi rintangan pertamanya untuk menciptakan sejarah baru di Bernabeu.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang