Pujian setinggi langit sempat dialamatkan kepada Motherwell musim lalu ketika mereka menampilkan permainan bola yang begitu memikat di bawah komando Jens Berthel Askou. Bahkan, pandit sepak bola sempat menjuluki mereka sebagai tim terbaik di daratan Britania Raya berkat aliran bola yang begitu cair. Sayangnya, roda nasib berputar begitu cepat dan kini mimpi indah itu berubah menjadi mimpi buruk di Stadion Fir Park.

Badai kehancuran ini tidak datang begitu saja. Musim panas lalu, klub harus rela kehilangan sejumlah pilar penting yang menjadi nyawa permainan, termasuk sang metronom lapangan tengah Elijah Just hingga kepergian pelatih Jens Berthel Askou ke Toulouse. Lubang besar yang ditinggalkan para pemain bintang tersebut gagal ditambal dengan sepadan oleh pelatih anyar Alfred Johansson yang kini harus memutar otak di tengah terjangan badai cedera.

Jika melihat catatan statistik di atas lapangan, situasi sebenarnya tidak sepenuhnya horor bagi skuad asuhan Johansson. Dilansir dari BBC Sport, jumlah peluang dan expected goals (xG) Motherwell musim ini justru mengalami sedikit peningkatan dibanding periode gemilang tahun lalu. Masalah utamanya terletak pada efisiensi di kotak penalti serta hilangnya agresivitas lini depan dalam mengonversi peluang matang menjadi gol penentu kemenangan.

Kendati lini serang masih mampu menciptakan ancaman, lubang terbesar justru menganga lebar di sektor pertahanan. Rata-rata kebobolan mereka melonjak drastis hingga nyaris dua kali lipat dibandingkan musim sebelumnya, diperparah dengan absennya kapten tim Paul McGinn serta kepergian kiper utama. Hilangnya keintiman taktik dan kurangnya ketenangan di lini belakang membuat gawang mereka kini menjadi lumbung gol bagi lawan-lawannya di Liga Skotlandia.

Meskipun rentetan enam kekalahan beruntun ini memicu kepanikan massal di kalangan suporter setia, mantan gelandang timnas Skotlandia Scott Allan menilai masih ada secercah harapan. Penampilan dalam beberapa laga terakhir menunjukkan bahwa fondasi permainan masih ada dan tinggal menunggu momentum kebangkitan. Ujian sesungguhnya kini menanti Alfred Johansson untuk segera merajut kembali kepingan kepercayaan diri anak asuhnya sebelum terjun semakin bebas ke dasar klasemen.