Gelaran kompetisi Liverpool dan klub-klub elite Eropa lainnya kini berada dalam sorotan tajam setelah sederet bintang memilih absen dari tugas negara. Masalah kebugaran dan akumulasi menit bermain yang menembus angka 55 pertandingan dalam semusim membuat para ahli olahraga bersuara lantang. Dilansir dari BBC Sport, beban kerja yang dipikul para pemain top sudah melewati batas kewajaran biologis manusia dan mengancam kualitas tontonan di atas lapangan hijau.
Situasi pelik ini terlihat jelas ketika bintang-bintang top seperti kapten Manchester City harus memikirkan ulang batas kemampuan tubuh mereka di tengah kalender yang semakin menggila. Dr Dave Richardson dari Universitas Lincoln menegaskan bahwa kondisi ini sama sekali tidak berkelanjutan. Ketika tubuh dipaksa terus menerus tanpa jeda pemulihan yang ideal, publik pada akhirnya akan disajikan penurunan kualitas performa dari para pemain bintang yang kelelahan secara fisik maupun mental.
Tekanan psikologis turut menjadi momok tersendiri di balik padatnya jadwal kompetisi modern saat ini. Pakar kesehatan mental Dr Chris James menyebutkan bahwa dunia sepak bola pria masih tertinggal dalam hal kepedulian terhadap kesehatan psikis pemain. Budaya menuntut pemain untuk selalu terlihat kuat membuat mereka kesulitan melakukan detasemen mental dari tanggung jawab profesional, yang pada akhirnya memicu stres berkepanjangan hingga risiko cedera parah.
Di sisi lain, Asosiasi Pemain Profesional (PFA) melalui sang CEO Maheta Molango dengan tegas melabeli sistem kompetisi saat ini sudah berada dalam kondisi yang sakit. Usulan mengenai kewajiban libur musim panas selama tiga minggu plus masa retraining dinilai sulit terwujud akibat ego dari berbagai badan sepak bola yang saling berebut panggung. Tanpa adanya badan independen yang menaungi seluruh turnamen, para pemain hanya bisa pasrah menghadapi dilema besar dalam karier mereka.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang