Arsitek Paolo Vanoli tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya selepas Fiorentina hanya mampu bermain imbang 2-2 kontra Atalanta di ajang Liga Italia. Sempat membalikkan keadaan melalui aksi gemilang di paruh kedua, La Viola justru harus puas berbagi poin akibat kelengahan di lini belakang yang terus berulang musim ini.

Pertandingan berjalan sengit sejak menit awal di mana tim tuan rumah tertinggal lebih dulu lewat gol Charles De Ketelaere sebelum turun minum. Meski tampil mendominasi dan menunjukkan performa apik di paruh pertama, konsentrasi runtuh akibat blackouts mental yang merugikan. Tekanan klasemen semakin nyata setelah mereka sebelumnya menelan rentetan hasil negatif dalam tiga laga beruntun.

Kebangkitan sempat terasa ketika Alieu Njie mencetak gol lewat sundulan terbang disusul lesakan Joao Mario yang sempat membakar semangat tribun pendukung. Sayangnya, keunggulan itu buyar setelah Nicola Zalewski mencetak gol penyeimbang bagi kubu tamu. Situasi ini membuat posisi La Viola tertahan di papan bawah klasemen sementara dengan koleksi lima poin.

Dilansir dari Football Italia, sang juru taktik secara terbuka menyoroti kurangnya insting bertahan secara kolektif dari anak asuhnya di atas lapangan hijau. Keputusan taktik memasang Joao Mario sebagai bek sayap kanan sempat membuahkan hasil manis lewat sumbangan gol, namun rapuhnya koordinasi lini belakang menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus segera dibenahi.

Masalah mentalitas dan kurangnya kelicikan taktis dalam situasi krusial mengingatkan publik pada kekalahan menyakitkan dari Inter Milan sebelumnya. Dengan persaingan Serie A yang semakin ketat, pelatih berusia kepala lima itu menegaskan bahwa skuad bertabur talenta ini wajib belajar bertahan sebagai satu kesatuan unit yang solid demi mendongkrak posisi tim.