Karier gemilang di atas lapangan hijau ternyata tidak otomatis menjadi jaminan kesuksesan ketika seorang pemain beralih profesi ke pinggir lapangan. Mantan kapten Arsenal, Tony Adams, merasakan betul kerasnya realitas tersebut setelah gantung sepatu pada tahun 2002. Perjalanan panjangnya meniti dunia kepelatihan diuji oleh berbagai tantangan kultur sepak bola global yang menuntut lebih dari sekadar nama besar masa lalu.
Dilansir dari FourFourTwo, Adams membagikan kisah bagaimana manajer top asal Portugal, Jose Mourinho, pernah memberikan teguran menohok sekaligus realistis kepadanya. Mourinho dengan blak-blakan menyadarkan sang legenda bahwa pengalaman bermain selama seperempat abad harus dibayar dengan kerja keras belajar kepelatihan dari nol untuk mengejar ketertinggalan dari para juru taktik murni.
Pesan menohok tersebut langsung melekat di kepala Adams dan membawanya menjelajahi petualangan manajerial ke berbagai belahan dunia, mulai dari Belanda, Spanyol, Tiongkok, hingga Azerbaijan. Pengalaman melatih klub Liga Utama Azerbaijan, Gabala, membuka matanya bahwa membangun fondasi klub membutuhkan visi jangka panjang yang jauh melampaui urusan taktik semata di atas lapangan.
Di Gabala, Adams sempat melontarkan permintaan ambisius kepada sang pemilik klub untuk membangun fasilitas latihan kelas dunia hingga bandara internasional demi mendongkrak prestasi tim. Meski sempat menjadi bahan tertawaan, visi besar tersebut akhirnya direalisasikan dengan pembangunan fasilitas lapangan latihan modern serta mendatangkan pelatih asal Belanda.
Kerja keras dan fondasi akademi yang diletakkan pada masa lalu kini membuahkan hasil manis bagi sepak bola Azerbaijan secara keseluruhan. Berkat visi pembangunan akademi tersebut, sebagian besar pilar Timnas Azerbaijan saat ini merupakan produk jebolan akademi yang dirintis pada era kepelatihan Adams di klub tersebut.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang