Mantan pemilik Leyton Orient, Barry Hearn, blak-blakan membuka penyesalannya terkait keputusan menjual klub yang bermarkas di Brisbane Road tersebut. Keputusan besar itu diambil tidak lama setelah klub menelan kekalahan pahit di final play-off League One pada musim 2014 melawan Rotherham United.
Dalam wawancara eksklusif yang dilansir dari FourFourTwo, Hearn mengakui bahwa momen tragis di Wembley tersebut masih menyisakan trauma mendalam baginya. Unggul dua gol di babak pertama, Leyton Orient justru harus rela kebobolan lewat dua gol cepat Alex Revell sebelum akhirnya takluk melalui adu penalti yang menegangkan di hadapan puluhan ribu suporter.
"Demi Tuhan, saya masih harus menjalani terapi karena hari itu. Bukan cuma menghancurkan seluruh suporter, tapi itu juga merugikan saya secara finansial," kenang Hearn menggambarkan betapa hatinya hancur berkeping-keping akibat kegagalan promosi yang berada di depan mata tersebut.
Keputusan untuk melepas kepemilikan 90 persen saham klub akhirnya bulat diambil setelah Hearn berdiskusi dengan keluarganya di meja makan. Sang anak, Eddie Hearn, sempat menyarankan untuk tetap bertahan karena sensasi kemenangan tandang yang luar biasa, namun sang istri memberikan titah tegas yang menjadi penentu akhir nasib klub di tangan keluarga mereka.
"Istri saya hanya mendongak dari piring makannya dan berkata, 'Singkirkan saja'. Dan itu saja sudah cukup mengakhiri segalanya," ujar Hearn mengenang detik-detik akhir kepemimpinannya yang berjalan selama 19 tahun sejak mengambil alih klub divisi bawah Liga Inggris tersebut pada tahun 1995.
Sayangnya, masa depan klub justru berubah menjadi mimpi buruk ketika kepemimpinan beralih ke tangan pemilik baru, Francesco Becchetti. Leyton Orient mengalami keterpurukan drastis hingga terlempar dari kompetisi profesional Liga Inggris (non-league) di tengah berbagai protes keras dan krisis finansial yang melanda klub London tersebut.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang