Langit pagi belum sepenuhnya cerah ketika sirine serangan udara kembali meraung di sekitar markas Shakhtar Donetsk. Rutinitas penuh ketegangan ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para penggawa klub raksasa Ukraina tersebut di tengah situasi perang yang berkecamuk. Di bawah komando pelatih Arda Turan, tim harus melakoni persiapan ringan sebelum bersiap menghadapi perjalanan darat yang melelahkan menuju perbatasan demi mengarungi ketatnya kompetisi Champions League musim ini.
Masalah logistik dan perjalanan jauh kini menjadi harga mahal yang harus dibayar Shakhtar karena mereka sama sekali tidak bisa menggelar pertandingan Eropa di tanah air sendiri. Setelah bertahun-tahun berpindah markas lintas negara mulai dari Polandia hingga Jerman, musim ini mereka mengambil langkah besar dengan memilih Stadion Stamford Bridge di London sebagai kandang sementara. Keputusan ini diambil agar skuad tetap bisa merasakan atmosfer stadion megah di panggung antarklub Eropa.
Perjuangan fisik dan mental para pemain sungguh luar biasa dalam menjalani jadwal yang padat dan melelahkan. Direktur manajemen olahraga Vitaliy Khlivnyuk mengungkapkan bahwa kelelahan fisik mungkin bisa diatasi, namun akumulasi tekanan mental akibat perang jauh lebih sulit diredam. Terkadang urusan administrasi klub juga terhambat karena sistem daring lumpuh akibat serangan rudal di Kyiv, memaksa manajemen bekerja ekstra keras di tengah situasi darurat.
Meski dihadapkan pada rintangan tanpa henti, semangat skuad tidak pernah padam sedikitpun dalam mengarungi musim. Kehadiran para pemain muda berbakat seperti Kauã Elias yang menikmati kebersamaan dengan rekan-rekan Brasilnya memberikan energi positif di tengah peliknya situasi. Setibanya di London, target mereka jelas yakni meraih hasil positif demi menghibur para pendukung di tanah air yang sedang berjuang di tengah kegelapan.
Direktur sepak bola Darijo Srna menegaskan bahwa kehadiran mereka di panggung Eropa bukan sekadar urusan taktik di atas lapangan hijau semata. Lebih dari itu, setiap laga adalah pesan kuat kepada dunia internasional bahwa Ukraina tetap hidup, kuat, dan tidak akan pernah menyerah sampai titik darah penghabisan. Dilansir dari The Guardian, perjalanan melelahkan ini menjadi simbol perlawanan dan harapan bagi seluruh warga Ukraina.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang