Gianni Infantino, pria yang selama ini nyaris tak tersentuh di puncak sepak bola dunia, kini sedang menghadapi tekanan yang luar biasa. Hingga pertengahan Juli lalu, ia masih dianggap sebagai calon kuat untuk terpilih kembali sebagai Presiden FIFA pada Maret mendatang. Hampir semua dari 210 anggota FIFA telah mendukung pencalonannya untuk periode keempat, dan tak ada satu pun penantang yang berarti. Namun, dua pekan terakhir segalanya berubah drastis setelah rencana FIFA untuk menjual saham Piala Dunia dan kompetisi lain kepada investor swasta dibatalkan.

Dunia kini terbelah soal nasib Infantino. BBC Sport memetakan sikap semua 210 asosiasi anggota, dan hasilnya menunjukkan bahwa ia tidak lagi melaju mulus. Sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris dan Wales, secara resmi menarik surat dukungan yang sebelumnya mereka kirim untuk pemilihan tahun depan. Sementara itu, Uni Sepak Bola Eropa (UEFA), Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menandatangani surat bersama yang menuduh Infantino dan FIFA melanggar kepercayaan mereka "melalui penipuan". Koalisi ini mewakili 136 asosiasi, sebuah kekuatan yang sulit diabaikan.

Namun, di dalam konfederasi itu sendiri ada suara yang berbeda. Bhutan, Filipina, dan Uni Emirat Arab di Asia justru mendukung Infantino. Meksiko juga memecah kebuntuan di Concacaf dengan menyatakan dukungannya. Sementara AS dan Kanada mendukung pernyataan Concacaf, tetapi belum secara terbuka menentang kekuasaan Infantino. Oceania Football Confederation (OFC) hingga kini bungkam, begitu pula para anggotanya. Di sisi lain, Infantino masih punya sekutu kuat di Afrika (CAF) dan Amerika Selatan (Conmebol), yang diuntungkan oleh investasi besar-besaran sejak ia memimpin sepak bola dunia.

Investasi dan Politik Kekuasaan

Investasi itu bisa menjadi kunci bagi Infantino untuk mengamankan suara dari negara-negara yang lebih kecil. Program FIFA Forward yang digagasnya telah mengucurkan miliaran dolar untuk pembangunan sepak bola di berbagai negara. Hal ini bisa menarik dukungan dari asosiasi di AFC, Concacaf, dan OFC yang selama ini diuntungkan. Arab Saudi, yang belum mengambil sikap publik, juga punya pengaruh besar. Negara itu mendapatkan hak tuan rumah Piala Dunia 2034 di bawah pengawasan Infantino, dan pemilihan kepemimpinan sepak bola mereka pada Agustus mendatang bisa menentukan posisi mereka serta memengaruhi negara-negara lain di kawasan.

Meski begitu, tidak ada jaminan bahwa setiap negara akan patuh pada garis konfederasi mereka. Patrice Motsepe, presiden CAF, tetap menjadi sekutu utama Infantino, tetapi Victor Montagliani dari Concacaf disebut-sebut sebagai calon penantang paling serius. Jika para pemimpin UEFA, Concacaf, dan AFC serius ingin menjatuhkan Infantino, mereka harus bersatu di belakang satu kandidat. Batas waktu bagi kandidat untuk mengumumkan niat maju adalah November mendatang.

Saat ini, peta suara masih cair: sekitar 73 mendukung Infantino, 124 menentang, dan 13 belum menentukan sikap. Angka ini bisa berubah sewaktu-waktu. Jika ada kandidat tunggal yang muncul, pemilihan akan menjadi pertarungan langsung yang membutuhkan 106 suara untuk menang. Dengan tiga kandidat atau lebih, aturan dua pertiga suara berlaku di putaran pertama. Pertarungan ini masih panjang, tetapi satu hal yang pasti: Infantino tidak lagi melaju sendirian menuju periode keempat. Tekanan politik, konflik internal, dan kurangnya kandidat yang jelas membuat masa depannya semakin tidak pasti.