Badai ketegangan geopolitik di kawasan Arab kini mulai mengguncang panggung sepak bola benua kuning setelah Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa membuka peluang penundaan turnamen akbar tersebut. Situasi keamanan yang mendadak memanas akibat serangan rudal kelompok Houthi di Riyadh, Arab Saudi, membuat masa depan turnamen empat tahunan ini berada di dalam bayang-bayang ketidakpastian besar bagi seluruh kontestan.

Dalam keterangannya di Zurich saat menghadiri pertemuan Dewan FIFA, Salman menegaskan bahwa pihak konfederasi tidak akan menutup mata terhadap faktor keselamatan jiwa dan keamanan seluruh peserta. Dilansir dari CNN Indonesia, sang presiden dengan tegas menyatakan kesiapan institusi pimpinannya untuk menggeser jadwal pesta sepak bola terakbar di Asia ini mundur satu tahun ke depan menjadi 2028 demi mengantisipasi segala kemungkinan terburuk di lapangan.

Kendati opsi pengunduran jadwal sudah disiapkan secara matang, pihak otoritas tertinggi sepak bola Asia tersebut menegaskan bahwa mereka tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan final dalam waktu dekat. Pemantauan ketat terhadap dinamika keamanan di kawasan tuan rumah dijadwalkan akan terus berlangsung secara intensif hingga batas akhir yang telah ditentukan oleh komite eksekutif sebelum ketok palu dikumandangkan.

Merujuk pada kalender kompetisi resmi saat ini, ajang bergengsi yang bakal diikuti oleh total 24 negara termasuk skuad Garuda asuhan pelatih Shin Tae-yong dijadwalkan mulai bergulir pada 7 Januari 2027 mendatang. Rencana awal menempatkan tiga kota besar di Arab Saudi yakni Riyadh, Jeddah, dan Khobar sebagai pusat pertarungan dengan dukungan delapan stadion megah yang telah disiapkan untuk memanjakan para pecinta bola.

Bagi Timnas Indonesia yang baru saja mengamankan tiket ke putaran final, dinamika ini tentu menjadi catatan tersendiri dalam menyusun periodisasi persiapan tim jangka panjang. Pihak AFC sendiri masih optimistis situasi bisa melunak dan berharap roda kompetisi dapat berjalan tepat waktu sesuai rencana awal tanpa harus mengorbankan agenda kalender internasional yang sudah padat.