Manajer Crystal Palace, Pierre Sage, secara terbuka mengakui dirinya merasakan rasa malu yang mendalam setelah timnya dibantai telak lima gol tanpa balas oleh Brighton. Kekalahan memalukan ini menempatkan masa depan sang juru taktik di Selhurst Park dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan, terlebih setelah awal musim yang compang-camping di kompetisi domestik.

Badai sudah langsung menghantam tim tamu ketika gawang mereka harus kebobolan tiga gol hanya dalam kurun waktu sembilan menit pertama pertandingan. Situasi buruk tersebut sekaligus mencatatkan kekalahan terbesar The Eagles dari rival sekota mereka sejak Januari 1956 silam, sebuah noda hitam yang langsung membakar kekecewaan suporter di tribun stadion.

Dalam sesi wawancara pascalaga, pelatih asal Prancis tersebut tidak lari dari tanggung jawab dan dengan kesatria mengakui bahwa kekalahan ini sepenuhnya adalah buah dari kegagalannya menyiapkan tim. Ia menyebut persiapan taktik serta motivasi yang diberikan kepada para pemain sama sekali tidak berjalan di atas lapangan hijau.

Tekanan kini kian menumpuk di pundak mantan pelatih Lens yang baru ditunjuk memimpin tim pada musim panas lalu untuk meneruskan fondasi sukses peninggalan Oliver Glasner. Saat ditanya awak media apakah manajemen klub masih akan memberikan waktu untuk membenahi performa buruk tim, Sage hanya bisa menjawab bahwa dirinya tidak tahu pasti.

The Eagles saat ini tertahan di peringkat ke-14 klasemen sementara Premier League setelah hanya mampu mengamankan dua kemenangan dari tujuh pertandingan awal. Masalah utama skuad asuhannya terletak di lini pertahanan, di mana kebobolan 17 gol menjadikan mereka tim dengan catatan pertahanan paling rapuh di kasta tertinggi.

Pekerjaan rumah yang masif langsung menanti Pierre Sage karena mereka harus segera melawat ke Turki menghadapi Besiktas di ajang Liga Europa, sebelum kembali berjuang di liga menghadapi Newcastle United akhir pekan nanti.