Badai kritik dan performa yang angin-anginan membuat status Vinicius Junior di lini serang Real Madrid tidak lagi sekokoh dulu. Ketika magis di atas lapangan mulai meredup, pelatih Jose Mourinho sama sekali tidak ragu untuk mengambil keputusan tegas, termasuk memarkirnya di bangku cadangan atau menariknya keluar saat pertandingan belum usai. Puncak ketegangan itu terlihat jelas ketika Los Blancos bertandang ke markas AS Roma di Stadio Olimpico, di mana sang winger asal Brasil diganti pada babak kedua tanpa satupun catatan gol maupun assist.

Malam di Roma menjadi saksi bagaimana kontribusi pemain berusia 26 tahun itu mendadak mandul. Selama hampir satu jam di atas lapangan, tidak ada ancaman berarti, nihil tembakan tepat sasaran, hingga kegagalan mencatat satu pun dribel sukses. Situasi kian runyam tatkala salah satu gol tuan rumah lahir akibat blunder fatal Vinicius yang kehilangan bola di area berbahaya. Frustrasi atas penarikan dirinya, ia sempat membanting gelang keringat ke tanah, sebuah gestur emosional yang langsung ditanggapi dingin oleh Mourinho seusai laga.

Catatan statistik musim ini memang mengonfirmasi penurunan drastis ketajamannya. Dari sembilan pertandingan awal di berbagai ajang, ia baru membukukan satu gol dan tiga assist, sebuah rapor merah bagi pemain yang baru saja mengamankan kontrak fantastis jangka panjang hingga Juni 2032 dengan bayaran sekitar Rp495 miliar hingga Rp516 miliar per musim. Kehadiran bintang lain serta benturan posisi di sektor kiri penyerangan kian memperumit adaptasinya di bawah arahan sang juru taktik asal Portugal tersebut.

Situasi pelik ini diperparah oleh ulah indisipliner saat menghadapi Villarreal, di mana ia diganjar kartu merah karena menjambak rambut lawan dan diganjar skorsing empat pertandingan La Liga. Absennya Vinicius di laga-laga krusial praktis membuka jalan lebar bagi pemain lain seperti Arda Guler, Endrick, hingga Yan Diomande untuk unjuk gigi. Tekanan kian menumpuk di pundak sang pemain tatkala tribun Santiago Bernabeu beberapa kali memperdengarkan siulan cemooh alih-alih tepuk tangan dukungan.

Masa depan eks bintang Flamengo ini sejatinya masih panjang di ibu kota Spanyol berkat ikatan kontrak jangka panjang yang dipegang klub. Kendati demikian, garansi tempat utama kini tinggal kenangan jika ia gagal menemukan kembali sentuhan emasnya. Panggung Liga Champions berikutnya akan menjadi ujian krusial bagi Vinicius untuk membuktikan bahwa dirinya belum habis dan layak kembali memimpin lini serang Los Merengues.