Ada aroma ketegangan yang tercium di kubu Paris Saint-Germain setelah kemenangan tipis atas tim promosi Le Mans. Pelatih Luis Enrique secara terbuka menyebut situasi tersebut sebagai sesuatu yang lumrah terjadi, terutama setelah ia harus memasukkan empat pemain inti di babak kedua demi mengamankan tiga poin penuh di kompetisi domestik. Namun, di balik kemenangan tersebut, tersimpan kekhawatiran mendalam bagi sang raksasa Prancis yang tampil kurang meyakinkan dalam beberapa laga terakhir.
Musim ini, Ligue 1 sering kali terasa seperti ajang sampingan di tengah ambisi besar mereka di panggung Eropa. Manajemen telah menggelontorkan dana besar di bursa transfer musim panas lalu dengan total belanja mencapai lebih dari €150 juta atau sekitar Rp2,5 Triliun untuk memperkuat kedalaman skuad. Sayangnya, deretan pemain baru seperti Ferran Torres dan Maghnes Akliouche justru kesulitan untuk sekadar menggeser para pemain pilar, membuat rotasi tim kerap mengorbankan kestabilan permainan di atas lapangan hijau.
Ketika menjamu Le Mans, Enrique mencoba bereksperimen dengan menurunkan pemain pelapis guna menjaga kebugaran tim utama jelang duel krusial Liga Champions melawan Manchester City asuhan Enzo Maresca. Meski sempat unggul lewat penalti Lucas Beraldo, pertahanan lapis kedua PSG justru keteteran hingga Louis Mafouta mampu menyamakan kedudukan. Situasi memaksa sang juru taktik memutar otak dan menurunkan amunisi utama seperti Khvicha Kvaratskhelia dan Vitinha untuk menyelamatkan muka tuan rumah dari hasil memalukan.
Masalah konsistensi para pemain pelapis ini menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi Les Parisiens jika ingin mempertahankan dominasi domestik sekaligus mengejar mimpi di kancah Eropa. Dilansir dari The Guardian, investasi besar yang dilakukan tidak dirancang untuk merombak hierarki tim utama, melainkan sekadar memberikan waktu istirahat. Akibatnya, ketika pilar-pilar utama diistirahatkan, mesin permainan PSG mendadak tersendat dan berjalan pincang di kompetisi lokal.
Di tempat lain, dinamika Ligue 1 juga menghadirkan cerita kelegaan bagi Marseille yang sukses keluar dari zona merah usai menaklukkan Troyes dengan skor 2-0. Sementara itu, Strasbourg masih harus berjuang keras di bawah asuhan pelatih baru Hugo Oliveira setelah menelan kekalahan 2-1 dari Nice, memperlihatkan betapa ketatnya persaingan papan bawah musim ini yang menuntut adaptasi cepat dari setiap tim peserta.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang