Dalam sebuah momen di Derby Manchester bulan lalu, VAR sempat melewatkan posisi Enzo Fernández karena wasit terlalu fokus mengamati pergerakan penyerang andalan Erling Haaland. Dilansir dari ESPN FC, penyerang asal Norwegia ini memang punya kemampuan luar biasa dalam menjaga tubuhnya tetap sejajar dengan garis pertahanan lawan, meski itu hanya berjarak tiga sentimeter dari ujung sepatu lawan.
Kemampuan menghindar jebakan offside kerap disejajarkan dengan legenda AC Milan, Filippo Inzaghi, yang pernah berkelakar bahwa dirinya lahir dalam posisi onside. Namun di era modern, mengukur siapa yang benar-benar jago dalam hal ini tidaklah mudah. Statistik mentah seperti jumlah bendera offside tidak bisa langsung membedakan kualitas seorang pemain karena dipengaruhi oleh volume peluang dan taktik tim seperti Aston Villa di bawah asuhan pelatih berpengalaman.
Model data lanjutan seperti xOffside mencoba membedah setiap umpan berdasarkan kecepatan, sudut, hingga fase permainan untuk memprediksi risiko offside. Menariknya, meskipun Erling Haaland sangat superior, ia bahkan bukan satu-satunya yang terbaik. Mantan pemain Aston Villa yang kini membela Chelsea, Morgan Rogers, tercatat sebagai salah satu yang paling minim terjebak offside dibanding ekspektasi model.
Meski perbedaan skill onside ini secara matematis mungkin hanya menyumbang sekitar setengah gol tambahan per musim bagi seorang pemain, nilainya tetap krusial bagi klub-klub elite. Di level kompetisi seketat Premier League, gol tambahan bernilai sangat mahal dan bisa menjadi pembeda antara juara atau runner-up.
Pada akhirnya, ketepatan posisi adalah seni sunyi yang sering kali luput dari pandangan mata telanjang kecuali saat tayangan ulang VAR diputar. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Erling Haaland sendiri, hal terburuk dalam sepak bola adalah terjebak offside karena itu menghilangkan peluang emas untuk mencetak gol.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang