Siklus Manchester United dalam dekade terakhir seolah berjalan di atas roda yang sama. Mulai dari musim buruk, pemecatan pelatih, lonjakan performa instan, hingga ekspektasi juara yang berujung pada kekecewaan mendalam di atas lapangan hijau.

Dilansir dari ESPN FC, problem utama Setan Merah terletak pada jurang pemisah antara romantisme masa lalu dan realitas finansial saat ini. Dengan nilai skuad dan tagihan gaji yang menempati posisi keempat serta kelima di Premier League, ekspektasi realistis klub sebenarnya berada di papan atas, bukan otomatis mendominasi tangga juara liga.

Pendapatan klub memang sempat merajai dunia, namun kebangkitan finansial rival-rival domestik membuat persaingan semakin ketat. Kehadiran klub seperti Aston Villa dan Nottingham Forest dalam memburu talenta top mengubah lanskap sepak bola Inggris secara drastis bagi Manchester United.

Kendati demikian, catatan statistik lanjutan memperlihatkan secercah harapan di balik keterpurukan posisi di klasemen sementara. Tim asuhan Michael Carrick ini masih mencatatkan dominasi dalam aspek penguasaan wilayah sepertiga akhir serta penciptaan peluang berbahaya.

Hanya saja, inkonsistensi penyelesaian akhir dan kerapuhan transisi bertahan masih menjadi PR besar yang harus segera dibenahi. Ujian konsistensi ini akan menentukan apakah Setan Merah mampu keluar dari lingkaran setan atau kembali mengulangi siklus pemecatan pelatih.