Sepak bola Inggris kini berada di ambang jurang kehancuran finansial meskipun mampu meraup pendapatan masif. Berdasarkan draf laporan bertajuk 'State of the Game' yang dirilis oleh Independent Football Regulator (IFR) pada hari Selasa, terungkap fakta mengejutkan bahwa 94% klub di lima divisi teratas Inggris mengalami kerugian.
Ketua IFR, David Kogan, menegaskan bahwa ekosistem kompetisi di Inggris saat ini memegang dua sisi mata uang yang kontras. Di satu sisi, atmosfer kompetisi di kompetisi top seperti Manchester City dan klub elit lainnya sangat kompetitif dan bernilai fantastis. Namun di sisi lain, kondisi finansial dasarnya sangat rapuh dan berdiri di tepi bencana ekonomi.
Laporan tersebut membeberkan angka-angka yang mengkhawatirkan, di mana total utang klub-klub Inggris diprediksi melonjak melampaui £5 miliar atau sekitar Rp100 Triliun pada akhir musim ini. Tak hanya itu, utang transfer bersih tercatat berada di kisaran £3,4 miliar atau setara Rp68 Triliun. Situasi ini diperparah dengan prediksi pendapatan hak siar televisi yang bakal mendatar atau bahkan mengalami penurunan pada siklus berikutnya.
Lebih lanjut, IFR menyoroti ketimpangan distribusi pendapatan yang mencolok antara kompetisi kasta tertinggi dengan divisi di bawahnya. Sebagai gambaran, rata-rata klub Premier League dilaporkan meraup pendapatan 8,7 kali lebih besar dibandingkan rata-rata klub di Championship pada musim 2024-2025. Kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan musim perdana liga pada 1992-1993 yang hanya mencatatkan selisih 2,7 kali lipat saja.
Sebagai langkah antisipasi, IFR telah menyiapkan cetak biru reformasi mekanisme distribusi keuangan dan pengetatan lisensi klub yang wajib dipatuhi hingga tahun 2030 mendatang. Dilansir dari ESPN FC, pihak regulator juga mewanti-wanti klub agar tidak lagi mengandalkan 'kepatuhan kreatif' seperti manuver penjualan aset demi meloloskan diri dari jerat regulasi finansial liga.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang