Pemain Calvin Verdonk nyaris mengukir rekor baru yang luar biasa gemilang dengan mencatatkan sebuah assist saat membela Lille berhadapan dengan Galatasaray di ajang Liga Champions. Momen krusial tersebut tercipta pada menit ke-32 ketika bek kiri andalan Timnas Indonesia itu menyisir sisi lapangan dan melepaskan umpan silang tajam ke jantung pertahanan lawan. Dilansir dari CNN Indonesia, umpan matang itu sebenarnya sudah mengecoh lini belakang lawan dan memicu kemelut di kotak penalti.

Sayangnya, peluang emas yang dibangun dari kerja keras pemain berusia 29 tahun tersebut gagal dikonversi menjadi gol oleh rekan setimnya. Hakon Haraldsson yang mendapatkan bola liar sempat mengecoh pemain lawan sebelum melepaskan tembakan melengkung, namun bola justru melenceng tipis dari sasaran. Kegagalan tersebut membuat Lille harus membuang peluang emas untuk memegang kendali keunggulan dalam pertandingan sengit di panggung elit Eropa tersebut.

Padahal, jika sepakan tersebut berbuah gol, catatan sejarah Calvin Verdonk di kompetisi antarklub paling elite benua biru ini bakal semakin berkilau. Mantan pemain NEC Nijmegen itu sebelumnya sudah menorehkan tinta emas sebagai pemain Indonesia pertama yang sukses melakoni debut sebagai starter sekaligus tampil penuh selama 90 menit penuh di Liga Champions. Sebuah pencapaian monumental yang tentu membanggakan para pencinta sepak bola tanah air di tribun penonton.

Kendati demikian, hasil akhir pertandingan tidak berjalan sesuai harapan setelah Lille harus mengakui ketangguhan wakil Turki tersebut dengan skor akhir 2-4. Kekalahan pahit di kandang lawan ini membuat posisi skuad asuhan pelatih terkait tertahan di peringkat ke-35 klasemen sementara Liga Champions. Tanpa raihan satu pun poin dari tiga pertandingan perdana yang telah dilakoni, tekanan tentu semakin besar bagi klub asal Prancis itu.

Walaupun menelan kekalahan telak, performa individu yang ditunjukkan oleh Calvin Verdonk tetap layak mendapatkan apresiasi tinggi dari publik sepak bola Indonesia. Konsistensi dan ketenangannya di lini belakang membuktikan bahwa pemain berdarah Aceh ini mampu bersaing di level tertinggi sepak bola Eropa. Kini, tantangan berikutnya adalah bagaimana ia bersama Lille bangkit dari keterpurukan dan memperbaiki posisi di klasemen fase grup Liga Champions.