Kabar mengejutkan datang dari lanskap sepak bola Inggris yang kini disebut tengah berdiri di tepi jurang kehancuran finansial. Berdasarkan laporan terbaru dari Independent Football Regulator (IFR) yang dirilis oleh Manchester City dan klub-klub top lainnya, mayoritas tim profesional di Inggris terancam gulung tikar jika para pemilik klub mendadak mencabut pendanaan mereka dalam waktu dekat.

Laporan setebal 245 halaman tersebut membeberkan fakta mengerikan bahwa sekitar 94 persen dari 116 klub teratas di Inggris saat ini mengalami kerugian finansial. Kasus-kasus kelam seperti yang pernah dialami Bury, Wigan Athletic, dan Derby County dijadikan sebagai contoh nyata betapa rapuhnya fondasi kompetisi di bawah naungan Premier League akibat utang yang menumpuk.

Ketua IFR, David Kogan, menyoroti adanya kontras tajam antara kekayaan luar biasa di level atas dan utang masif yang menggerogoti piramida sepak bola Inggris. Lonjakan pendapatan rata-rata klub sebesar 2.000 persen ternyata jauh tertinggal dibandingkan kenaikan pengeluaran gaji pemain yang meroket hingga 5.000 persen, dengan beban gaji tertinggi di liga mencapai angka fantastis sekitar Rp7,2 Triliun per tahun berdasarkan kurs yang berlaku.

Dilansir dari FourFourTwo, situasi ini diperparah oleh ketergantungan klub terhadap kantong para taipan pemilik modal serta ketidakpastian dana kompensasi degradasi atau parachute payments. Sebagai respons darurat, IFR telah merumuskan rencana enam poin untuk menyelamatkan klub-klub dari potensi kebangkrutan total melalui reformasi distribusi pendapatan, transparansi manajemen risiko, serta perlindungan finansial jangka panjang bagi para suporter setia.