Tepat satu tahun sudah Martin O'Neill kembali menukangi Celtic, sebuah periode yang awalnya dikira hanya menjadi pelarian sementara pasca mundurnya Brendan Rodgers. Namun, alih-alih sekadar menjadi singgah sesaat, pria berusia 74 tahun itu justru terus bertahan di kursi panas meski sempat diselingi 33 hari kepemimpinan Wilfried Nancy yang berjalan suram. O'Neill sendiri mengakui bahwa momen kembali ke dunia kepelatihan ini berhasil merevitalisasi dirinya secara personal, meski tantangan besar terus mengintai di balik hasil-hasil di atas lapangan.
Jika melihat pencapaian domestik, raihan O'Neill tergolong impresif dengan membawa klub bangkit dari ketertinggalan poin musim lalu hingga mengunci gelar juara liga ke-56 secara dramatis di partai pemungkas. Musim ini, dominasi tersebut berlanjut di mana mereka baru menelan satu kekalahan dari 10 pertandingan liga dan memimpin atas Rangers di puncak klasemen. Kendati demikian, suporter dan pengamat menilai progres klub secara keseluruhan masih tertahan, terutama jika tolok ukurnya adalah ambisi besar di kancah sepak bola Eropa.
Sorotan tajam justru mengarah ke performa skuad di panggung kontinental yang dianggap jauh dari kata memadai. Tersingkir dari Liga Champions dan terpuruk di dasar klasemen sementara Liga Europa usai menelan kekalahan berat dari tim-tim seperti LASK, Ferencvaros, dan Benfica, memperlihatkan betapa rapuhnya kedalaman skuad The Bhoys. Legenda klub Chris Sutton bahkan melontarkan kritik pedas dengan menyebut mantan timnya itu sekadar jago kandang yang tak bertaring saat keluar negeri.
Di luar urusan taktik, badai kritik juga menghujam jajaran direksi klub terkait kebijakan transfer dan minimnya visi jangka panjang. Perekrutan pemain baru seperti penyerang Camilo Duran dan gelandang Mika Baur memang sempat memantik asa, namun sektor lini tengah pertahanan dinilai compang-camping hingga membuat gelandang Callum McGregor harus bekerja ekstra keras sendirian. Situasi ini membuat O'Neill kerap dianggap publik sebagai tameng hidup bagi manajemen yang dinilai lepas tangan dari berbagai masalah struktural klub.
Dengan sisa kontrak yang berjalan dan kesadarannya terhadap warisan prestasi yang ingin ditinggalkan, O'Neill diprediksi akan menjadikan titel domestik sebagai fokus utama penebusan dosa musim ini. Apakah ini bakal menjadi musim pemungkas bagi sang manajer sepuh di Glasgow? Yang jelas, dinamika internal yang bergejolak menuntut adanya evaluasi total agar klub penguasa Skotlandia ini tidak semakin tertinggal dari standar modern sepak bola Eropa.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang