Insiden kekerasan yang melibatkan oknum suporter kembali mencoreng wajah sepak bola nasional setelah penyerangan bus rombongan Persib Bandung U-18 dan bus Jakmania Cikampek terjadi dalam waktu berdekatan. Situasi panas ini langsung memantik reaksi keras dari juru taktik Persija Jakarta, Shin Tae Yong, yang meminta aparat penegak hukum tidak tinggal diam dan segera memproses para pelaku secara pidana.

Berbicara di Persija Training Ground, Depok, pelatih asal Korea Selatan tersebut secara tegas menyatakan bahwa tindakan kriminal yang dilakukan oleh oknum suporter murni merupakan tanggung jawab individu, bukan kesalahan institusi klub. Menurutnya, mendesak sanksi pengurangan poin di kompetisi domestik adalah langkah yang tidak tepat sasaran karena manajemen klub mustahil bisa mengawasi pergerakan ribuan pendukungnya di ruang publik.

Lebih lanjut, pelatih berusia 55 tahun itu mempertanyakan logika di balik wacana sanksi administratif kepada klub akibat insiden di luar stadion seperti di area istirahat jalan tol. Ia menilai manajemen klub tidak mungkin mengerahkan staf untuk membuntuti seluruh pendukung satu persatu demi mencegah potensi keributan di luar area pertandingan resmi.

Menatap laga tandang krusial melawan Persita Tangerang akhir pekan ini, Shin melontarkan imbauan terbuka kepada kelompok suporter Jakmania agar segera menanggalkan fanatisme sempit. Ia mengingatkan bahwa tindakan anarkis di luar lapangan tidak hanya merusak citra sepak bola Indonesia, tetapi juga memberikan dampak kerugian besar secara langsung bagi perjuangan para pemain di atas lapangan.

Dukungan suporter di tribun seharusnya murni diarahkan untuk menikmati pertandingan secara sportif tanpa harus dibumbui aksi kekerasan yang berujung pada proses hukum. Ketegasan sikap dari jajaran pelatih ini diharapkan mampu meredam ketegangan antarpendukung sekaligus menjadi alarm bagi pemangku kebijakan agar mengutamakan penegakan hukum pidana bagi para pelaku kriminal.