Ada yang berbeda dari Vinicius Junior akhir-akhir ini, mulai dari perubahan bentuk wajah lewat prosedur kosmetik hingga performa di atas lapangan yang mendadak loyo. Winger andalan Real Madrid ini baru mengemas satu gol dari sembilan penampilan awal musim ini, kontras jauh dengan ketajaman Kylian Mbappe yang sudah mencetak delapan gol di periode yang sama. Situasi ini tentu memancing tanda tanya besar di kalangan suporter Los Blancos yang mulai kehilangan kesabaran.

Musim panas lalu, rumor transfer sempat memanas ketika Arsenal berniat mendatangkan pemain asal Brasil tersebut untuk menambal lini serang mereka. Madrid bergerak cepat memagari sang bintang lewat kontrak baru berdurasi enam tahun. Namun, keputusan manajemen untuk memberi kepercayaan penuh justru diiringi sambutan dingin dan siulan dari tribune Bernabéu. Ego besar yang kerap melekat pada pemain bintang kini mulai berubah menjadi bumerang setelah serangkaian tindakan indisipliner di atas lapangan.

Titik nadir penurunan sang pemain terlihat jelas ketika pelatih anyar Jose Mourinho memutuskan mencadangkannya dalam duel kontra Villarreal. Masuk sebagai pemain pengganti, Vinicius justru diusir keluar lapangan akibat menjambak rambut gelandang lawan, Nathan Saliba. Gol sempat tercipta lewat kakinya, namun dianulir VAR sekaligus memvonisnya dengan kartu merah langsung. Reaksi emosional dan protes berlebihan kepada wasit memperlihatkan bagaimana sang pemain gagal meredam emosinya dalam situasi krusial.

Absennya winger berusia muda tersebut akibat sanksi larangan bermain nyatanya tidak membuat Madrid goyah. Tanpa kehadirannya, Los Blancos justru sukses mengamankan kemenangan di laga El Clásico berkat penampilan gemilang lini depan. Kehadiran pelatih sekelas Mourinho di ruang ganti tentu membawa tekanan psikologis tersendiri bagi pemain yang gemar menjadi pusat perhatian. Sejarah mencatat bagaimana pendekatan keras sang juru taktik kerap memakan korban, namun tidak sedikit pula yang bangkit.

Masa depan sang bintang kini berada di persimpangan jalan yang menentukan nasib kariernya di level tertinggi Eropa. Apakah ia mampu meredam ego pribadi dan kembali fokus pada permainan sepak bola, atau justru bernasib sama seperti pemain-pemain yang tenggelam di bawah tekanan Mourinho? Waktu yang akan menjawab apakah talenta luar biasa asal Brasil ini bisa menyelamatkan kariernya dari jurang penurunan.