Keputusan kontroversial VAR kembali memanaskan atmosfer kompetisi Eropa setelah Luciano Spalletti meluapkan kebingungannya usai laga Juventus kontra Rennes. Bermain di Turin dalam ajang Europa League, Bianconeri harus puas dengan hasil imbang 2-2 setelah gol dramatis Jhon Lucumi di menit-menit akhir secara mengejutkan dianulir oleh pengawas pertandingan. Insiden tersebut langsung memicu perdebatan panas di ruang ganti dan tribun penonton, mengingat situasi itu terjadi pada menit ke-88 ketika tensi pertandingan sedang berada di puncak.
Dilansir dari Football Italia, Spalletti secara terbuka menyatakan ketidakpahamannya atas keputusan wasit yang menganggap Lucumi berada dalam posisi offside saat menyambut bola liar dari sundulan Teun Koopmeiners. Sang pelatih kepala merasa bek lawan memiliki ruang untuk menghalau bola dan tidak ada impedansi berarti dari pemain bertahan Juventus tersebut. Situasi ini membuat sang juru taktik merasa ragu atas pemahamannya sendiri terhadap regulasi offside modern, meski ia tetap mengapresiasi kepemimpinan pengadil lapangan secara keseluruhan kecuali pada insiden krusial tersebut.
Di sisi lain, sorotan tajam juga diarahkan pada lini serang Si Nyonya Tua yang untuk pertama kalinya menurunkan duet Nick Woltemade dan Randal Kolo Muani sebagai starter. Kolaborasi keduanya sebenarnya sempat membuahkan hasil positif melalui assist Woltemade untuk gol pembuka Zeki Celik serta penalti penyama kedudukan dari sang penyerang Jerman. Kendati demikian, performa keseluruhan lini depan dinilai belum sepenuhnya padu, terutama Kolo Muani yang kesulitan mendikte permainan dan harus ditarik keluar sepuluh menit menjelang bubaran.
Menanggapi performa duet penyerang barunya, sang pelatih menegaskan bahwa kualitas individu kedua pemain tersebut jauh lebih besar daripada apa yang tersaji di atas lapangan hijau. Ia percaya bahwa kombinasi taktik antara Woltemade dan Kolo Muani memiliki potensi eksplosif jika mereka mampu membangun chemistry yang lebih matang ke depannya. Respon positif juga ditunjukkan skuad utama setelah kekalahan pahit 3-0 dari Lazio pada akhir pekan lalu, di mana mentalitas bertarung anak asuhnya mulai kembali terbentuk di bawah tekanan besar.
Meski mengapresiasi kebangkitan mental tim setelah sempat tertinggal, pelatih berkepala plontos itu tetap menuntut skuadnya untuk bermain lebih berani dan keluar dari zona nyaman. Ia menyoroti kecenderungan pemain yang kerap memilih bertahan terlalu dalam, sebuah pendekatan yang menurutnya sudah tidak relevan dalam dinamika sepak bola modern saat ini. Desakan untuk terus menekan lawan dan mengambil alih kendali permainan menjadi harga mati jika klub raksasa Italia tersebut ingin bersaing di level tertinggi Eropa.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang