Pelatih Shin Tae Yong melontarkan desakan agar kualitas rumput Jakarta International Stadium segera mendapat pembenahan menyeluruh. Situasi pelik ini muncul seiring rencana penutupan Stadion Utama Gelora Bung Karno yang akan menjalani renovasi panjang hingga Maret 2027 mendatang. Sebagai nakhoda Persija Jakarta, pelatih asal Korea Selatan itu merasa cemas karena timnya terancam kehilangan kandang utama yang memiliki standar kualitas lapangan mumpuni untuk menunjang skema permainan di atas lapangan.

Dalam sesi konferensi pers jelang pertandingan melawan Dewa United, sang juru taktik secara terbuka menyayangkan penutupan arena kebanggaan Timnas Indonesia tersebut. Menurutnya, Macan Kemayoran sangat membutuhkan fasilitas lapangan yang prima demi memanjakan para pendukung setia yang selalu memenuhi tribun stadion. Tanpa lapangan yang layak, ambisi menyajikan tontonan sepak bola yang atraktif dan menghibur tentu akan mengalami hambatan besar dalam mengarungi ketatnya kompetisi Liga 1 musim ini.

Sorotan tajam terhadap permukaan lapangan JIS sebenarnya bukan kali pertama ini disuarakan oleh kubu Macan Kemayoran. Sebelumnya, kritik serupa juga sempat dilayangkan oleh sang pelatih bersama bek tangguh Rizky Ridho selepas laga kandang menghadapi Persik Kediri. Keluhan berulang ini menunjukkan betapa krusialnya aspek infrastruktur bagi klub ibu kota dalam menjaga konsistensi performa serta meminimalkan risiko cedera pemain akibat kondisi rumput yang kurang optimal.

Menanggapi berbagai keluhan yang datang dari internal klub, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung memberikan respons cepat. Pihak pemerintah provinsi melalui PT JakPro selaku pengelola stadion memastikan akan segera melakukan penyempurnaan rumput agar standar kualitasnya meningkat. Pemprov mengklaim proses pemulihan rumput saat ini sudah jauh lebih cepat dibanding masa lalu, di mana penanganan pasca konser kini hanya memerlukan waktu satu pekan saja sebelum bisa kembali digunakan untuk menggelar pertandingan resmi.

Meskipun pihak pengelola berjanji segera merampungkan pembenahan, tekanan kini beralih kepada seberapa cepat perbaikan tersebut bisa dirasakan langsung di atas lapangan. Bagi suporter setia yang rindu melihat permainan terbaik tim kesayangan mereka, pemulihan fasilitas JIS menjadi harga mati agar ambisi besar klub di kompetisi domestik tidak terganggu oleh kendala teknis non-lapangan yang terus berulang setiap musim.