Dunia sepak bola Jepang diguncang oleh sebuah keputusan mengejutkan dari figur senior yang menjunjung tinggi integritas. Mantan pelatih timnas di Piala Dunia, Takeshi Okada, secara resmi memilih mundur dari jabatannya sebagai Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Jepang (JFA). Langkah drastis ini diambil sebagai bentuk protes keras terhadap dinamika politik di tubuh FIFA jelang pemilihan presiden yang melibatkan Gianni Infantino.

Surat pengunduran diri Okada yang dirilis oleh badan sepak bola Jepang, dilansir dari ESPN FC, tertulis tepat 24 jam setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) melakukan langkah kontroversial dengan menyatakan dukungannya kepada Infantino. Sang Presiden FIFA sendiri tengah memburu masa jabatan keempatnya dalam pemilihan yang dijadwalkan berlangsung di Rabat, Maroko, pada bulan Maret mendatang. Dukungan bulat AFC ini memicu ketegangan mengingat sebelumnya banyak pihak menyoroti gaya kepemimpinan serta rencana kontroversial sang petahana.

Bagi Okada yang memimpin skuad Samurai Biru di turnamen akbar 1998 dan 2010, olahraga harus selalu mencerminkan nilai integritas yang murni. Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa rentetan tindakan di seputar FIFA tahun ini sudah jauh menyimpang dari prinsip moral pribadinya sebagai seorang olahragawan sejati. Meski demikian, pria berusia 70 tahun tersebut menyadari posisi dilematis Jepang yang memiliki ambisi besar untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia sebelum tahun 2050 mendatang.

Perubahan arah dukungan AFC terjadi usai pertemuan di Tokyo yang dipimpin oleh Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, di mana kekuatan besar asal Teluk seperti Qatar dan Arab Saudi turut memegang pengaruh vital. Keputusan mendadak ini langsung menuai kritik tajam dari berbagai kalangan global, termasuk kecaman terbuka dari mantan wakil presiden FIFA Pangeran Ali bin Al Hussein yang menyebut pertemuan tersebut sarat akan muatan politis. Di sisi lain, AFC langsung bereaksi keras dan membawa tudingan tersebut ke ranah pejabat yudisial mereka untuk tindakan disipliner lebih lanjut.

Menariknya, di tengah kisruh politik tingkat tinggi ini, FIFA di bawah kepemimpinan Infantino tetap menebar pengaruh kuat lewat janji kucuran dana pembangunan senilai USD 25 juta atau setara dengan sekitar Rp387,5 Miliar bagi masing-masing dari 211 anggota federasi. Di belahan bumi Eropa, UEFA kini tengah berpacu dengan waktu untuk mencari kandidat penantang serius sebelum batas akhir pendaftaran resmi ditutup. Gelombang protes dari legenda seperti Okada menunjukkan bahwa tensi kursi panas orang nomor satu sepak bola dunia bakal terus memanas.