West Ham United, Burnley, dan Wolverhampton Wanderers harus memulai hidup baru di Championship setelah terdegradasi dari Premier League musim lalu. Namun, pertanyaan besarnya: akankah mereka mampu langsung promosi kembali? Pengalaman musim lalu menunjukkan bahwa Championship bukanlah tempat yang mudah untuk didominasi.

Hanya Ipswich Town yang berhasil kembali ke kasta tertinggi, sementara Southampton gagal memanfaatkan momen setelah pergantian pelatih, dan Leicester City justru terdegradasi ganda. Ini menjadi peringatan bagi tim-tim yang baru turun kasta.

West Ham United: Favorit dengan Segudang Problem

West Ham United menjadi favorit utama untuk juara Championship musim ini. Klub asal London itu terakhir bermain di divisi dua 14 tahun lalu, dan sejak menjuarai Conference League 2023, performa mereka menurun drastis. Empat kekalahan dalam lima laga terakhir musim lalu memastikan degradasi.

Di luar lapangan, klub diguncang isu penjualan saham oleh keluarga Gold kepada konsorsium pimpinan Amanda Staveley. Proses ini bisa memakan waktu hingga dua bulan, berpotensi mengganggu persiapan tim. Namun, di dalam lapangan, Jarrod Bowen menjadi andalan utama dengan kecepatan dan etos kerjanya yang tinggi.

Pelatih Nuno Espirito Santo juga punya pengalaman memenangkan Championship bersama Wolves pada 2017-18. Dukungan 62.500 suporter di London Stadium diprediksi menjadi kekuatan tersendiri. Laga pembuka melawan Burnley pada 16 Agustus akan menjadi ujian awal yang krusial.

Burnley: Model Naik-Turun yang Rentan

Burnley sudah terbiasa dengan pola promosi lalu degradasi. Dalam empat promosi sejak 2014, tiga di antaranya berakhir dengan langsung turun kasta. Musim lalu mereka hanya mengumpulkan 22 poin, musim terburuk mereka di Premier League.

Kepergian Scott Parker dan penunjukan Nicky Hayen sebagai pengganti menuai kritik. Hayen datang dengan filosofi sepak bola penguasaan bola yang tinggi. Rekrutan baru seperti Ugo Raghouber diharapkan bisa memperkuat lini tengah. Namun, dengan 12 pemain pergi, Burnley butuh banyak rekrutan baru untuk membangun skuad yang solid.

Kyle Walker, yang bergabung dengan status bebas transfer, diharapkan bisa membawa pengalaman juara. Namun, model bisnis yang terus menjual pemain muda menunjukkan ketidakberlanjutan, dan musim ini bisa menjadi ujian terbesar bagi Alan Pace dan kolega.

Wolves: Harapan di Tangan Pelatih Misterius

Wolves finis di dasar klasemen musim lalu, terpaut 21 poin dari zona aman. Penjualan pemain bintang seperti Pedro Neto dan Matheus Cunha melemahkan skuad. Namun, kedatangan Kieran Trippier dan Raul Jimenez memberikan secercah harapan.

Pemecatan Rob Edwards dan penunjukan Cesar Peixoto, pelatih asal Portugal yang belum pernah mencoba peruntungan di Inggris, dianggap berisiko. Namun, pengalaman 2017-18 saat Nuno Espirito Santo membawa Wolves juara dengan gaya serupa bisa menjadi preseden positif.

Peixoto dikenal dengan sepak bola menyerang dan pressing tinggi. Dengan materi pemain yang ada, termasuk bakat muda Mateus Mane, Wolves berharap bisa bersaing di papan atas. Hubungan fans dengan pemilik Fosun masih dingin, dan hasil musim ini akan menentukan masa depan.