Pertarungan atas rencana penjualan Piala Dunia mungkin sudah berakhir, tetapi perang sesungguhnya baru saja dimulai. FIFA baru saja mengalami kemunduran memalukan setelah presidennya, Gianni Infantino, berupaya melelang saham berbagai kompetisi, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta. Langkah berani itu langsung menuai kecaman bulat dari seluruh dunia sepak bola.

Tak terkecuali UEFA, yang menjadi salah satu penentang paling vokal. Mereka bahkan sempat mengirim surat ke Sekretaris Jenderal FIFA untuk memperingatkan adanya rencana aksi hukum atas skema yang sarat uang tersebut, meski akhirnya batal. UEFA juga berkomitmen untuk memboikot semua turnamen FIFA jika rencana kontroversial itu tetap dilanjutkan.

Namun, UEFA pun tak sepenuhnya bersih. Mereka ikut bertanggung jawab atas munculnya Infantino. Dari markas UEFA di Nyon, pria asal Swiss-Italia itu membangun pengaruhnya sebelum naik ke puncak kekuasaan di Geneva sebelas tahun lalu. Ia seperti Anakin Skywalker yang menjadi Darth Vader; awalnya dianggap harapan masa depan, lalu berbelok ke sisi gelap sepak bola.

Kebencian terhadap Infantino memang sudah mengakar di tubuh UEFA. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, bahkan memimpin aksi walkout delapan orang pada Kongres FIFA tahun lalu setelah menunggu tiga jam karena Infantino lebih memilih bersosialisasi dengan pemimpin dunia, termasuk Donald Trump, di Timur Tengah. Insiden itu memanaskan hubungan, tetapi ketegangan sebenarnya sudah ada sejak lama.

Sejak Infantino pindah ke FIFA pada 2016, ia agresif berupaya menyaingi Liga Champions sebagai turnamen dengan pendapatan tertinggi. Ceferin pun berusaha menjadi antitesis FIFA, bahkan sesekali mencuri perhatian. Contoh terbaru, UEFA menunjuk wasit asal Somalia, Omar Artan, untuk memimpin Piala Super, yang sebelumnya ditolak masuk ke Piala Dunia oleh pemerintahan Trump.

UEFA juga pernah berencana menggandeng International Champions Cup untuk meluncurkan turnamen ala Liga Champions pada musim panas 2021, demi menyaingi Piala Dunia Antarklub yang diperluas. Sementara itu, Infantino sempat mencoba membalas dengan mendiskusikan rebranding Liga Super Eropa di bawah naungan FIFA, beberapa bulan sebelum kompetisi kontroversial itu gagal total.

Kini, UEFA menyimpan cetak biru turnamen alternatif bernama Global Nations League di brankas mereka selama hampir satu dekade. Format delapan tim itu sudah mendapat dukungan awal dari CONCACAF dan Konfederasi Sepak Bola Asia. Jika Infantino terus serakah, bukan tidak mungkin Ceferin akan menarik pelatuk untuk melucuti kekuasaannya. Jika itu terjadi, tuduhan 'mafia UEFA' dari para suporter akan semakin sulit dibantah.