Bulan madu Enzo Maresca di kursi panas Manchester City resmi berakhir sudah. Setelah sempat mencatatkan start gemilang dengan menyapu bersih tujuh kemenangan awal di Premier League, sang manajer kini dihadapkan pada tembok tebal bernama inkonsistensi. Kekalahan tipis 0-1 dari Brighton di Etihad Stadium akhir pekan kemarin memperpanjang tren negatif The Citizens, menyusul hasil minor sebelumnya saat takluk di markas Aston Villa.

Badai masalah kini mengintai lini belakang Manchester City yang tampak rapuh. Pasukan Maresca telah kebobolan 10 gol dari sembilan pertandingan awal musim ini, sebuah catatan mengkhawatirkan yang membuat mereka rentan disalip para rival di papan atas klasemen. Kesalahan individual mulai menumpuk, mulai dari blunder di Villa Park hingga kesalahan fatal Matheus Nunes saat bersua Brighton, membuat City kini baru mengemas satu clean sheet dari delapan pertandingan terakhir di semua ajang.

Tidak hanya lini belakang, perombakan lini tengah senilai total sekitar Rp6,5 Triliun pada bursa transfer musim panas lalu pasca kepergian pilar penting, tampaknya masih menyisakan PR besar bagi sang pelatih. Keputusan menurunkan kombinasi pemain tengah anyar secara bersamaan kontra Brighton belum membuahkan hasil maksimal, sementara kreativitas tim justru melambat dan mengorbankan ketajaman di sepertiga akhir lapangan.

Tumpulnya lini serang menjadi sorotan utama ketika mesin gol andalan mereka, Erling Haaland, mati suri dan gagal meneror jaring lawan. Melepaskan 21 tembakan tanpa satupun berbuah gol di kandang sendiri merupakan alarm darurat bagi efektivitas lini depan City. Dua laga terakhir di liga memperlihatkan bagaimana mereka hanya mampu mencetak satu gol meski menciptakan banyak peluang emas.

Maresca dituntut untuk segera menemukan formula terbaik dan mengembalikan ketajaman timnya sebelum terlambat dalam perburuan gelar juara. Ujian sesungguhnya bagi sang manajer kini berada di depan mata, saat Manchester City harus terbang menghadapi RB Leipzig di ajang Liga Champions tengah pekan ini untuk bangkit dari keterpurukan.