Mikel Mikel Arteta kembali meracik ulang fondasi permainan Arsenal musim ini demi mempertahankan dominasi di kompetisi domestik. Setelah sempat sukses dengan gaya main yang meminimalisir risiko serta memaksimalkan kontrol penuh, sang juru taktik kini justru terlihat lebih berani mengambil judi besar dalam hal personel maupun struktur formasi.

Perubahan paling mencolok terlihat dari bagaimana Arsenal membangun serangan lewat formasi 3-1-6, di mana Declan Rice ditarik lebih ke dalam untuk membentuk tiga bek sejajar. Peran gelandang bertahan tunggal dipercayakan kepada pemain muda penuh potensi, Myles Lewis-Skelly, yang piawai mengalirkan bola dari lini belakang ke barisan depan dengan tenang.

Namun, ambisi untuk terus berevolusi ini tidak berjalan tanpa celah. Kekalahan telak tiga gol tanpa balas dari Brighton sebelum jeda internasional membongkar sisi rapuh dari pendekatan baru tersebut, terutama ketika lawan menerapkan tekanan man-to-man pressing berintensitas tinggi secara konsisten di sepanjang pertandingan lapangan tengah.

Fabian Hurzeler berhasil memadamkan kreativitas Meriam London dengan memaksa para pemain belakang melakukan kesalahan mendasar. Tekanan ketat tersebut membuat alur bola terhambat dan merusak ritme penguasaan yang biasanya menjadi senjata utama dalam membongkar pertahanan lawan di sepertiga akhir lapangan hijau.

Kendati demikian, rekam jejak menunjukkan bahwa Mikel Arteta adalah tipe pelatih yang cepat belajar dari celah taktik. Sebagaimana ia sukses merespons kejutan dari Manchester City pada musim-musim sebelumnya, ujian sesungguhnya kini adalah bagaimana sang manajer menemukan penawar ampuh atas taktik pressing agresif.