Panggung politik tertinggi sepak bola dunia mendadak bergemuruh di tengah krisis yang mendera badan pengelola. Dilansir dari BBC Sport, sejumlah petinggi sepak bola Eropa secara khusus mendorong Arsene Wenger untuk maju sebagai calon penantang dalam pemilihan presiden mendatang. Langkah berani ini mencuat menyusul badai kritik yang menerpa kepemimpinan petahana akibat skema kontroversial yang sempat memicu gejolak global di berbagai konfederasi.

Dewan FIFA dijadwalkan melangsungkan pertemuan penting di Zurich dalam atmosfer yang diprediksi bakal memanas. Sang presiden petahana harus menghadapi sorotan tajam dari para kritikus terkait reformasi tata kelola organisasi hingga prosedur disipliner. Meski demikian, kekuatan dukungan dari wilayah Afrika, Amerika Selatan, serta Oseania membuat posisinya masih tampak kokoh untuk mengamankan masa jabatan keempat kalinya tanpa pesaing sepadan dari kalangan petinggi konfederasi lain.

Di sinilah nama mantan juru taktik legendaris Arsenal tersebut mulai diperhitungkan sebagai figur alternatif yang ideal. Sejak bergabung sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola Global, sosok asal Prancis ini dinilai memiliki integritas tinggi serta reputasi bersih yang dihormati lintas benua, termasuk di Asia dan Afrika. Dukungan internal dari kalangan staf badan sepak bola dunia juga mengalir karena mereka percaya figur senior tersebut mampu memperbaiki citra organisasi yang tengah tercoreng.

Kendati demikian, jalan menuju kursi kepresidenan tentu tidak akan berjalan mulus begitu saja bagi pria berusia 76 tahun tersebut. Tantangan terbesar terletak pada loyalitasnya kepada sang atasan yang mengangkatnya pada tahun 2019 silam. Sejumlah kalangan internal memperingatkan bahwa ia mungkin merasa enggan untuk berkhianat, sementara pengamat lain mempertanyakan kapasitas politiknya dalam menggalang kekuatan di panggung global yang penuh intrik kekuasaan.

Jika benar-benar berniat mengambil langkah revolusioner di luar garis lapangan hijau, batas akhir bagi setiap kandidat untuk mendeklarasikan pencalonan tersisa hingga pertengahan November mendatang dengan syarat minimal dukungan lima asosiasi nasional. Publik kini menanti apakah sang ikon taktik yang pernah mengubah peta sepak bola Inggris ini benar-benar berani melakukan kudeta administratif di tubuh FIFA.