Air mata Lionel Scaloni belum kering betul ketika ia melangkah masuk ke ruang konferensi pers di Buenos Aires. Raut wajah sang pelatih masih menyisakan duka mendalam usai menyaksikan Lionel Messi benar-benar melakoni pertandingan terakhirnya berseragam Albiceleste, yang berujung kemenangan manis tiga gol tanpa balas atas Benin.

Pertandingan perpisahan yang diwarnai satu gol penalti La Pulga serta sumbangan gol dari Nicolas Otamendi dan Nico Paz itu berubah menjadi panggung penuh emosi. Pidato perpisahan sang megabintang sukses memicu banjir air mata di stadion, membuat sang juru taktik tak kuasa menahan kesedihannya kehilangan pemain terhebat dalam sejarah.

Scaloni secara terbuka mengakui bahwa sepak bola tidak akan pernah lagi menyaksikan sosok dengan talenta dan pengaruh sebesar peraih banyak trofi Ballon d'Or tersebut. Rasa kehilangan yang mendalam ini berdampak langsung pada cara skuad Argentina menatap masa depan tanpa sang kapten legendaris yang telah mengabdi selama dua dekade.

Dalam sesi jumpa pers, sang pelatih menekankan bahwa melatih pemain terbaik dunia adalah sebuah impian masa kecil yang menjadi kenyataan luar biasa. Ia menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga atas dedikasi fantastis sang penyerang yang membela panji negara dengan cara tiada duanya sepanjang 208 penampilan resmi.

Momen emosional ini menandai akhir dari era keemasan sepak bola internasional yang melahirkan empat gelar prestisius, termasuk mahkota Piala Dunia dan Copa America. Kini, tantangan besar berada di pundak sang pelatih untuk meramu taktik baru di tengah lubang besar yang ditinggalkan sang ikon abadi.