Insiden panas mewarnai lanjutan kompetisi Borneo FC kontra PSM Makassar ketika bek muda Mufli Hidayat harus mandi lebih cepat akibat kartu merah. Pertandingan yang berkesudahan dengan skor imbang 1-1 tersebut mendadak soroti ketegangan emosional di atas lapangan hijau. Publik sepak bola nasional dikejutkan oleh aksi tandukan kepala yang melibatkan sang pemain bertahan Juku Eja dengan penyerang lawan.

Dilansir dari CNN Indonesia, Mufli akhirnya buka suara dan secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pendukung setia PSM atas insiden yang merugikan tim. Mant pemain Timnas U-20 Indonesia itu merasa perlu meluruskan situasi agar publik tidak langsung menghakimi tanpa mengetahui akar permasalahan sebenarnya di atas lapangan.

Pemain bernomor punggung 71 tersebut membeberkan bahwa tindakan refleksnya menanduk Hugo Samir dipicu oleh dugaan penghinaan verbal yang menyasar keluarganya. Menurut pengakuannya, provokasi tersebut sudah melewati batas kewajaran karena turut menyeret almarhum sang ayah yang telah tiada.

Bagi Mufli, kalimat yang dilontarkan di tengah pertandingan sudah bukan lagi sekadar psywar bumbu persaingan antartim, melainkan bentuk pelecehan personal yang mencederai nilai sportivitas. Ia menegaskan bahwa batasan respek antarsesama pemain profesional harus tetap dijunjung tinggi meski atmosfer pertandingan berjalan sangat panas dan keras.

Hasil imbang 1-1 membuat tambahan satu poin menempatkan skuad Juku Eja di peringkat ke-11 klasemen sementara, persis satu tingkat di atas Pesut Etam yang menghuni posisi ke-12. Mufli berharap kejadian kontroversial ini bisa menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi semua pihak agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.