Kabar mengejutkan datang dari ring atas sepak bola Eropa ketika Aleksander Ceferin dipastikan akan maju kembali untuk periode keempat dan terakhir sebagai Presiden UEFA. Keputusan ini diumumkan langsung oleh badan sepak bola Eropa tersebut pada Kamis, di mana Ceferin menyatakan niatnya untuk mencari pemilihan ulang dalam kongres yang dijadwalkan berlangsung di Astana, Kazakhstan, April mendatang.

Pria asal Slovenia yang pertama kali terpilih pada 2016 ini mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepercayaan yang diberikan oleh berbagai asosiasi nasional. Dalam pernyataannya di Berlin, ia menyebut bahwa tantangan luar biasa telah dihadapi bersama sebagai satu tim yang solid. Ambisinya tetap terjaga untuk menjaga persatuan sepak bola Eropa, memperkuat permainan, serta mempersiapkan UEFA menghadapi generasi masa depan yang lebih kompetitif.

Langkah pencalonan kembali ini dimungkinkan setelah adanya perubahan kontroversial pada batas masa jabatan presiden dalam status UEFA di Kongres 2024 di Paris. Meski sempat mendapat penentangan dari Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan pernyataan sebelumnya dari Ceferin sendiri bahwa ia akan mundur pada 2027, dinamika politik mengubah arah dukungannya hingga 2031.

Manuver ini juga tidak lepas dari tensi tinggi antara UEFA dan kepemimpinan FIFA di bawah Gianni Infantino. UEFA secara terbuka mendesak adanya reformasi total di tubuh FIFA serta mencari figur alternatif yang kredibel untuk menantang Infantino dalam pemilihan presiden mendatang yang dijadwalkan berlangsung di Rabat, Maroko.

Dengan 55 negara anggota Eropa yang memegang suara signifikan dari total 211 federasi global, langkah politik Ceferin ini diyakini bakal membawa stabilitas sekaligus memanaskan persaingan pengaruh di panggung sepak bola internasional menjelang tenggat waktu pencalonan.