Petinju kelas bulu legendaris asal Puerto Rico, Amanda Serrano, bersiap untuk naik ring untuk terakhir kalinya dalam karier profesionalnya yang luar biasa. Dilansir dari Sky Sports, ia akan menghadapi penantang asal Australia, Skye Falzon, di Coliseo de Puerto Rico, San Juan, pada tanggal 9 Januari mendatang dengan mempertaruhkan sabuk juara dunia unifikasi WBO dan WBA.

Pertarungan penutup ini dipastikan berjalan sengit karena dijadwalkan berlangsung selama 12 ronde dengan durasi tiga menit per ronde, aturan yang disetarakan sepenuhnya seperti halnya petinju pria. Keputusan ini konsisten dengan rekam jejaknya yang pernah mencetak sejarah pada tahun 2023 dalam kejuaraan dunia wanita pertama dengan format 12 ronde tiga menit, di mana ia bahkan rela secara sukarela melepas gelar WBC demi mempertahankan komitmen kesetaraan aturan tersebut.

Selain mempertahankan sabuk juaranya di depan publik sendiri, petinju yang dibimbing oleh pelatih dan manajer Jordan Maldonado ini juga memburu rekor KO sepanjang masa tinju wanita. Rekam jejaknya sebagai pemegang Guinness World Record yang sukses meraih gelar dunia di tujuh divisi berat berbeda serta statusnya sebagai juara tak terbantahkan pertama asal Puerto Rico membuat laga perpisahan ini sarat akan emosi dan gengsi tinggi.

Perjalanan karier sang legenda tak lepas dari momen-momen kolosal, termasuk ketika ia berduel melawan Katie Taylor dalam laga tinju wanita pertama yang menjadi partai utama di Madison Square Garden pada tahun 2022. Rivalitas bersejarah tersebut berlanjut melalui laga ulang pada 2024 serta trilogi spektakuler yang memimpin kartu pertarungan khusus wanita di tempat yang sama pada 2025.

"Tinju telah menjadi hidup saya dan saya tidak pernah membayangkan perjalanan yang akan membawa saya dan keluarga sejauh ini," ungkap sang petinju mengenang perjuangannya dari masa-masa awal ketika tinju wanita masih berjuang mendapatkan pengakuan hingga sukses mendobrak pintu bagi generasi petinju wanita berikutnya.

Sementara itu, pendiri Most Valuable Promotions (MVP) Nakisa Bidarian dan Jake Paul memberikan penghormatan tinggi atas dedikasi sang atlet selama ini. Mereka menyebut sang bintang sebagai figur paling berpengaruh yang menjadi fondasi utama dalam mengubah lanskap tinju wanita dunia menuju kesetaraan kesempatan serta bayaran yang adil.