Malam magis tercipta di Vitality Stadium ketika Bournemouth sukses menghantam raksasa Italia AC Milan dengan skor telak 3-0 di ajang Liga Europa. Hasil fantastis ini terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi publik tuan rumah, mengingat perjalanan klub yang nyaris bangkrut pada 2008 silam. Gol pembuka dari Justin Kluivert bahkan mengulang sejarah manis 31 tahun lalu, ketika sang ayah, Patrick Kluivert, mencetak gol kemenangan Ajax atas lawan yang sama di final Liga Champions.
Dominasi wakil Inggris di kompetisi Eropa musim ini memang bukan sekadar kebetulan. Dilansir dari BBC Sport, klub-klub Premier League tampil beringas dengan hanya menelan empat kekalahan dari 26 pertandingan lintas ajang kontinental. Kekuatan finansial yang masif menjadi motor utama kesuksesan ini. Pendapatan hak siar televisi domestik yang menembus angka sekitar Rp27,4 Triliun per musim membuat klub-klub semenjana Inggris mampu jor-joran di bursa transfer dan menawarkan gaji tinggi yang sulit ditolak bakat top benua biru.
Kendati demikian, dominasi mutlak tersebut sejauh ini masih kerap menemui tembok tebal di pentas Liga Champions. Klub-klub mapan Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, hingga Bayern Munich masih memegang kendali penuh di panggung utama si kuping besar ketika fase gugur tiba. Meski demikian, performa luar biasa tim-tim non-unggulan Inggris di kasta kedua dan ketiga Eropa tetap menyisakan pertanyaan besar bagi sepak bola benua Eropa: apakah ini awal dari hegemoni total Premier League?
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang