Malam penuh frustrasi kembali harus dirasakan oleh para pendukung Celtic di Glasgow. Sempat memimpin lewat gol cepat Mika Baur di babak kedua, asa sempat membumbung tinggi di tribun Celtic Park. Intensitas permainan sempat merepotkan tim tamu asal Spanyol, Celta Vigo, yang sebelumnya hanya memainkan operan tanpa arah. Namun, kehancuran mental yang terjadi antara menit ke-68 hingga 71 mengubah segalanya secara drastis dari tiga poin di depan mata menjadi kekecewaan mendalam.
Tragedi di kandang ini memperpanjang rekor buruk wakil Skotlandia tersebut di kancah kontinental. Dilansir dari BBC Sport, kekalahan ini merupakan yang ketiga secara beruntun di fase grup Europa League, menempatkan mereka di posisi ke-35 dari 36 peserta klasemen sementara. Hasil minor ini menegaskan bahwa dominasi domestik sama sekali bukan tolok ukur yang tepat untuk mengukur kapasitas bersaing di Eropa. Rentetan hasil buruk ini sekaligus membuktikan label "bully kompetisi lokal" yang kerap disematkan para pengamat kepada skuad asuhan Martin O'Neill.
Masalah yang mendera klub rupanya jauh melampaui urusan taktik di atas lapangan hijau. Ketika menghadapi sedikit saja tekanan dan adangan dari lawan, mentalitas bertanding para pemain mendadak runtuh tanpa daya. Rentetan kesalahan elementer dalam mengantisipasi situasi bola mati serta kegagalan mengamankan area pertahanan menjadi bumerang yang mematikan. Pelatih tentu memikul tanggung jawab atas performa tim, tetapi kritik tajam juga harus diarahkan kepada jajaran direksi klub yang seolah bersembunyi dari sorotan publik dan membiarkan staf pelatih menghadapi tekanan perselisihan dengan suporter.
Jika ditarik ke belakang, penurunan prestasi ini terasa begitu menyayat hati bagi fans yang dahulu pernah menyaksikan malam-malam magis di panggung Champions League. Dulu, stadion ini bergemuruh saat sukses menumbangkan raksasa eropa sekelas Manchester United, AC Milan, hingga Barcelona. Perbandingan kontras terlihat jelas ketika mengenang perjuangan sengit melawan Bayern Munchen tahun lalu, di mana mereka baru menyerah di pengujung tambahan waktu babak kedua. Kini, semua kejayaan itu menguap dan menyisakan bayang-bayang mediokritas di kasta kedua Eropa.
Manajemen klub kini berada di persimpangan jalan yang menuntut kejelasan visi untuk masa depan tim. Mengandalkan kesuksesan di kompetisi domestik semata tidak akan menghapus rasa malu melihat posisi klub di papan bawah klasemen Eropa. Pertanyaan besar kini menggantung di benak publik: apakah petinggi klub memiliki keberanian dan visi nyata untuk mengembalikan martabat tim, atau Celtic akan terus terjerumus dalam lingkaran setan keputusasaan di level internasional?
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang