Chelsea kini menghadapi risiko terpuruk dengan pola yang serupa dengan Tottenham setelah mengalami musim yang tidak stabil dengan pergantian tiga manajer dan potensi kegagalan lolos ke kompetisi Eropa. Situasi ini memicu kekhawatiran serius mengenai arah masa depan klub London Barat tersebut, terutama setelah melihat bagaimana Tottenham, yang merupakan bagian dari 'Big Six', mengalami penurunan drastis setelah sempat memenangkan Europa League musim lalu namun kini justru terancam zona degradasi. Ketidakstabilan struktur kepelatihan di Stamford Bridge menjadi sorotan utama dalam upaya klub menghindari nasib yang sama.

Kondisi manajemen teknis Chelsea musim ini tergolong kacau dengan pergantian pelatih yang sangat cepat. Setelah meraih kesuksesan di Conference League 2025 dan menumbangkan Paris Saint-Germain di final Piala Dunia Antarklub, Enzo Maresca justru dipecat pada awal tahun. Posisi tersebut kemudian diisi oleh Liam Rosenior yang hanya bertahan selama 23 pertandingan, sebelum akhirnya Calum McFarlane ditunjuk sebagai pelatih interim untuk mengakhiri musim yang berat. Ketidakpastian kepemimpinan ini berdampak langsung pada performa tim yang saat ini tertahan di posisi kesembilan klasemen Premier League dengan hanya menyisakan tiga pertandingan terakhir.

Kegagalan mengamankan tiket kompetisi Eropa musim depan diprediksi akan memicu eksodus pemain bintang. Nama-nama kunci seperti Cole Palmer dan Enzo Fernandez kemungkinan besar akan mempertanyakan masa depan mereka di klub jika Chelsea tidak mampu berkompetisi di level kontinental. Kehilangan pemain dengan kualitas individu tinggi akan memperparah proses rekonstruksi skuad yang sudah berlangsung lama. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa Chelsea sedang berjalan menuju jurang penurunan performa jangka panjang jika tidak ada langkah strategis yang diambil oleh manajemen.

Legenda Chelsea, Ruud Gullit, memberikan kritik tajam mengenai kurangnya filosofi yang jelas di dalam klub. Menurut Gullit, manajemen dan pemilik klub perlu secara terbuka menjelaskan arah perkembangan tim karena para pendukung tidak akan menerima hasil selain trofi. Gullit menekankan bahwa pembangunan skuad tidak bisa hanya mengandalkan bakat muda tanpa adanya pondasi kepemimpinan yang kuat di dalam lapangan. Tanpa identitas permainan yang konsisten, Chelsea hanya akan terus melakukan eksperimen yang berisiko merusak stabilitas tim.

Sebagai solusi, Gullit menyarankan agar Chelsea mengambil inspirasi dari model manajemen pemain yang diterapkan oleh Paris Saint-Germain. Di PSG, terdapat keseimbangan antara pemain muda berbakat dengan pemain berpengalaman yang memiliki jam terbang tinggi. Para pemain senior berperan sebagai mentor yang membimbing pemain muda mengenai cara bermain, pengambilan keputusan, dan pengelolaan tekanan di pertandingan besar. Pola regenerasi ini dianggap krusial agar pemain muda dapat berkembang secara alami melalui transfer pengetahuan dari pemain senior sebelum nantinya mereka menjadi mentor bagi generasi berikutnya.

Kebutuhan akan sosok mentor ini terlihat nyata pada performa Moises Caicedo di lini tengah. Gullit menilai bahwa pemain seperti Caicedo membutuhkan rekan setim yang memiliki profil kepemimpinan seperti Casemiro untuk memberikan arahan taktis secara langsung di lapangan. Bimbingan mengenai kapan harus menekan lawan atau bagaimana menjaga posisi pertahanan adalah detail yang biasanya didapatkan melalui interaksi dengan pemain senior berpengalaman, baik dalam sesi latihan maupun saat pertandingan berlangsung. Ketiadaan sosok pemimpin veteran di lini tengah membuat pemain muda seringkali kehilangan arah dalam situasi kritis.

Meskipun Chelsea masih memiliki peluang untuk menutup musim dengan catatan positif melalui laga final FA Cup melawan Manchester City, hal tersebut dinilai hanya menjadi penutup sementara atas berbagai masalah mendalam yang ada. Fokus utama klub seharusnya tertuju pada pembenahan struktur jangka panjang dan penghentian siklus pergantian pelatih yang terlalu sering. Jika Chelsea gagal membangun filosofi yang jelas dan tidak segera mendatangkan pemimpin berpengalaman dalam skuad, risiko untuk mengikuti jejak keterpurukan Tottenham menjadi sangat terbuka lebar.