Xabi Alonso kini dikabarkan masuk dalam radar kandidat pelatih untuk mengisi posisi manajer di Chelsea, namun langkah ini dinilai sebagai risiko besar bagi reputasinya. Mantan bek Liverpool, Glen Johnson, memperingatkan bahwa mengambil alih kepemimpinan di Stamford Bridge saat ini sama dengan menduduki kursi paling panas di dunia sepak bola. Risiko ini menjadi semakin nyata mengingat ekspektasi tinggi pendukung Chelsea yang menuntut hasil instan tanpa memberikan ruang bagi proses adaptasi jangka panjang bagi seorang manajer baru.
Kasus Rafa Benitez menjadi peringatan nyata bagi siapa pun yang mencoba melatih Chelsea dengan latar belakang sejarah kuat di klub rival. Benitez, yang membawa Liverpool juara Liga Champions 2005, pernah menjabat sebagai pelatih interim The Blues pada periode 2012-2013 selama 48 pertandingan. Meskipun berhasil membawa Chelsea menjuarai Europa League, Benitez tidak pernah benar-benar mendapatkan dukungan dari basis penggemar yang skeptis. Hubungan profesionalnya dengan rival bebuyutan di Premier League membuat posisinya sulit, membuktikan bahwa prestasi trofi saja tidak cukup untuk memenangkan hati suporter Chelsea jika tidak dibarengi dengan penerimaan emosional.
Situasi Alonso saat ini cukup rentan setelah mengalami periode sulit di Real Madrid, di mana ia hanya bertahan selama tujuh bulan sebelum akhirnya diberhentikan pada Januari. Meskipun reputasinya sempat melonjak saat membawa Bayer Leverkusen menjuarai Bundesliga, kegagalan di Santiago Bernabeu memberikan pukulan telak bagi karier kepelatihannya. Hal ini membuat langkah menuju Chelsea menjadi sangat berisiko, terutama bagi pelatih muda yang belum memiliki ketahanan mental dalam menghadapi tekanan ekstrem di liga paling kompetitif di dunia. Contoh nyata terlihat pada Liam Rosenior yang hanya bertahan selama 23 pertandingan sebelum masa jabatannya berakhir dengan tragis.
Menurut Glen Johnson, tantangan terbesar bagi Alonso di Chelsea adalah ketiadaan periode transisi. Para pelatih di Stamford Bridge tidak memiliki kemewahan waktu selama enam bulan, satu tahun, bahkan 18 bulan untuk membangun filosofi permainan. Manajer baru dipaksa untuk memberikan kemenangan segera setelah mengambil alih tim. Bagi pelatih muda seperti Alonso, tuntutan ini bisa menjadi jebakan yang menghancurkan karier jika hasil buruk terjadi di awal masa jabatan. Johnson menilai bahwa mengambil kursi tersebut dalam kondisi saat ini adalah keputusan yang cenderung tidak rasional bagi pelatih yang sedang mencoba membangun kembali stabilitas kariernya.
Di sisi lain, opsi untuk kembali ke Liverpool dianggap sebagai jalur yang jauh lebih aman dan terhormat bagi Alonso. Sebagai legenda yang menghabiskan lima tahun berkarier di Anfield, ia memiliki modal dukungan penuh dari pendukung The Reds. Ekspektasi bahwa Alonso akan kembali ke Merseyside pada suatu saat nanti selalu ada, mengingat ikatan emosional yang kuat antara dirinya dengan klub. Jika Liverpool memutuskan untuk bergerak cepat, Alonso kemungkinan besar akan menerima tawaran tersebut daripada mengambil risiko tinggi di London Barat.
Wacana mengenai pergantian pelatih di Liverpool juga mulai menguat menyusul performa Arne Slot yang dinilai gagal memperkuat fondasi juara Premier League yang telah dibangun sebelumnya. Kegagalan Slot dalam menjaga konsistensi tim membuat manajemen Liverpool mungkin akan mempertimbangkan untuk mempercepat rencana membawa pulang Alonso. Meskipun Slot masih memimpin tim, tekanan dari hasil pertandingan yang tidak stabil membuat posisi manajer di Anfield mulai goyah, yang secara otomatis membuka peluang bagi Alonso untuk kembali dalam peran yang berbeda.
Namun, Johnson mengingatkan bahwa menjadi legenda di sebuah klub tidak menjamin seseorang akan menjadi pelatih yang sukses di klub yang sama. Ia menekankan prinsip bahwa terkadang menghadapi masalah yang sudah dikenal lebih baik daripada mengambil risiko dengan sesuatu yang tidak diketahui. Meskipun situasi di Liverpool saat ini dianggap buruk menurut standar klub, mengganti manajer secara terburu-buru tanpa rencana yang matang bisa menjadi kesalahan besar. Keputusan untuk menggantikan Slot dengan Alonso harus didasarkan pada kebutuhan taktis, bukan sekadar nostalgia terhadap jasa masa lalunya sebagai pemain.
Secara keseluruhan, dilema antara Chelsea dan Liverpool bagi Xabi Alonso adalah pertarungan antara tantangan berbahaya dan zona nyaman yang penuh dukungan. Chelsea menawarkan panggung besar namun dengan risiko pemecatan yang sangat cepat, sementara Liverpool menawarkan penerimaan namun dengan tekanan untuk menjaga standar juara. Dengan melihat jejak kegagalan Rafa Benitez dalam memenangkan hati pendukung Chelsea, Alonso disarankan untuk lebih berhati-hati dalam menentukan langkah karier selanjutnya agar tidak terjebak dalam siklus kegagalan manajer muda di Premier League.